Selasa, 17 Oktober 2017

Tanam Apel Sebelum Beriman - Segalanya Tentang Iman

IMAN. Jujur saja, tulisan ini dilandasi oleh seorang gadis. Mungkin penulis akan sedikit bercerita tentang gadis itu. Tapi tentu, kita akan tetap focus pada topik kita kali ini. Penulis memberinya ke kategori filsafat agama dan juga opini bukan tanpa alasan. Alasan paling sederhana, Karena topic ini adalah perkara iman dan tentunya ini hanya pemikiran bebas dari penulis (sebuah essay/opini).

Pemikiran bebas, tentu penulis tau tata kramanya. Mungkin kalian tahu, ini adalah kedai filsafat, dimana kalian bebas memesan menu apa saja, tanpa paksaan dan dorongan dari kami para penulis di web ini. Kami hanya menyodorkan menu, kalian yang memutuskan untuk menikmatinya. Tapi ingat, dimana-mana sesuatu yang berbauh filsafat itu, susah ditolak oleh akal. Bahkan ucapan memungkiri, namun akal akan sibuk memikirkannya. Tapi coba sedikit berbagilah dengan hati, semua akan menjadi tenang dan damai. Penulis serius.

Tenang saja, penulis akan menyajikan filsafat yang super rumit (Kata orang luar sana) dengan gaya bahasa sederhana dan seo friendly.

Ok kita lanjut. Ada baiknya kita buka dengan sebuah definisi, berikut adalah definisi dari iman itu sendiri.

Bolehkah mempertanyakan keimanan

Apa itu IMAN?


Adakalanya kita harus merujuk terlebih dahulu kewebsite dengan prioritas tinggi, berikut adalah definisi iman yang penulis kutip dari Wikipedia.

"Definisi Iman berdasarkan hadist merupakan tambatan hati yang diucapkan dan dilakukan merupakan satu kesatuan. Iman memiliki prinsip dasar segala isi hati, ucapan dan perbuatan sama dalam satu keyakinan, maka orang - orang beriman adalah mereka yang di dalam hatinya, disetiap ucapannya dan segala tindakanya sama, maka orang beriman dapat juga disebut dengan orang yang jujur atau orang yang memiliki prinsip. Atau juga pandangan dan sikap hidup."

Bukan berarti Wikipedia adalah landasan Kebenaran.

Hemat penulis tentang iman itu. Iman adalah keselerasan rasio dan pengalaman. Misalnya, jika kita mempunyai pengetahuan “Menanam bibit jagung, maka yang tumbuh kelak adalah jagung”, setelah kita mengetahui itu, kemudian mencobanya dan ternyata yang tumbuh adalah jagung seperti yang kita ketahui, maka pengetahuan atau pengalaman itu menjadi suatu kepercayaan (Keseimbangan mengetahui dan merasakan). Nah itu pemikiran penulis tentang iman itu sendiri. (Mungkin diantara pembaca ada yang bisa menambahkannya)

Mengapa Beriman?


Untuk menjawab pertanyaan ini, mungkin kita akan menggunakan kata “Mengapa”. Karena mengapa akan menghasilkan sebuah jawaban yang berbentuk “Alasan” (Mendasar)

Dari segi pengamatan penulis, masih banyak orang yang beragama melakukan ibadah tanpa mengetahui alasannya. Paling umum terjadi karena factor keturunan, ikut-ikutan dan lain sebagainya. Tentunya mereka semua tidak salah. (Pengamatan ini bisa saja salah)

Dari kecil penulis melakukan hal yang sama, penulis disuruh sholat. Yah, penulis sholat, dan tentunya waktu itu penulis tidak bertanya “Mengapa harus sholat?”, kenapa penulis tidak bertanya? Penulis masih kecil, dan mungkin belum bisa berpikir dengan baik. Jadi, hal itu wajar.

Yang tidak wajar, adalah melakukan hal itu terus menerus, hingga menjadi kebiasaan dan lupa mempertanyakan “mengapa?”. Mengapa saya melakukan ibadah? Jadi, sampai disini apakah kalian sudah mempunyai alasan sendiri? Tanpa iming-iming surga, neraka, ketakutan, kenikmatan atau hanya sebatas DOKTRIN? (Kita akan membahas lebih lanjut pada sub bab berikutnya)

Dan tentunya, Tuhan akan lebih senang. Yah, penulis yakin, Tuhan yang penulis percayai akan senang akan hal itu (Islam), karena setidaknya penulis beribadah bukan karena sebatas keturunan, doktrin atau hanya takut dengan neraka, atau hanya karena menginginkan surga, atau apapun itu yang di iming-imingkan didalam wahyu. Akan tetapi ibadah karena memang dorongan sendiri, alasan sendiri dan pilihan sendiri, toh ini adalah hubungan pribadi kita dengan TUHAN.

Hemat penulis, Kenapa beriman? Karena kita punya masing-masing alasan. Itu jawaban dari penulis. So, apa alasan penulis beriman? Hal ini sebenarnya hal pribadi, tapi tak apalah. Alasan penulis sederhana, hingga sampai saat ini penulis tidak menjumpai alasan bahwa Tuhan itu tidak ada. Baik dari segi logika ataupun dari pengalaman. Untuk pengalaman, penulis akan menjelaskannya pada sub bab berikutnya.

Apakah boleh mempertanyakan iman itu kembali?


Sebetulnya, ini adalah hal yang dasar. Sebagai manusia tentu kita akan menghadapi yang namanya pasang surut keimanan. Dan tentu keimanan itu boleh direvisi.

Jika dilihat secara sekilas, ini adalah perbuatan yang mungkin melanggar ajaran agama.Tetapi tentu, mungkin kita semua sepakat ilmu agama itu bukan hanya selembar kertas, akan tetapi ada jutaan kertas lainnya. So, kita harus belajar ilmu agama secara menyeluruh.

Lanjut pembahasan, lalu apa jawaban penulis soal pertanyaan pada bab ini? Jawabannya boleh, kenapa?

Semua agama melarang, dan merupakan dosa paling besar ialah keluar dari agama alias murtad, betul atau benar? Penulis kira betul dan benar. Ini pengetahuan umum.

Berangkat dari pernyataan diatas, saat ini penulis beragama islam. Anggap saja dua bulan yang lalu penulis beragama X (Agama selain islam). Dimana agama X tentu ajarannya kurang lebih dari Islam yaitu melarang keras untuk keluar Agama.

Kira-kira, andai kata penulis tidak mempertanyaan iman dua bulan yang lalu tentang Agama X, saat ini penulis memeluk islam tidak? Jawabannya tidak. So, boleh mempertanyakan iman. Karena jikalau memang apa yang kita percayai adalah sebuah kebenaran, berapa kalipun kita mempertanyakan (Merevisinya), hasilnya pasti tetap Kebenaran. Begitupun sebaliknya. Kalian tidak maukan, apa yang kalian percayai adalah hal yang salah. Atau kurang benar. TIDAK MAU.

“Tapi islam itu beda bro, islam itu adalah kebenaran paling mutlak yang tidak boleh lagi dipertanyakan” Nah itu adalah penyangkalan beberapa orang yang mengaku islam.

Penulis kutip dari kata mereka diatas “… Islam itu adalah kebenaran paling mutlak…” Jika memang itu yang mereka percayai dan yakini bahwa islam adalah kebenaran mutlak, kenapa takut, kenapa tidak boleh dipertanyakan, toh seperti kata penulis “Jika memang hal itu adalah KEBENARAN, tentunya berapa kalipun kita mempertanyakannya, hasilnya tetap sebuah KEBENARAN”

Dan yang paling penting dari mempertanyakan kembali sebuah keimanan adalah menambah keimanan jika memang itu adalah KEBENARAN. Karena kepercayaan takan hadir tanpa sebuah keraguan, kekaguman dan keheranan.

# Ceritanya seperti ini:


Dari kecil, kalian telah diajari bahwa “Tanam bibit Apel, maka akan tumbuh buah apel”, setiap hari orang tua dan lingkungan selalu mengatakan “Tanam bibit Apel, maka akan tumbuh buah apel”, kesekolah “Tanam bibit Apel, maka akan tumbuh buah apel”.

Kemudian kalian beranjak dewasa berumur 21 tahun, tentunya kalian mengaku beriman tentang “Tanam bibit Apel, maka akan tumbuh buah apel” karena kepercayaan sudah menjadi mindset, dan jika kalian berpikir “Tanam bibit Apel, maka akan tumbuh buah semangka”, kalian akan merasa berbeda, kalian merasa ada yang salah, kalian akan menyanngkal dan berkata “Haha mana mungkin tanam apel tumbuh semangka”. Kenapa seperti itu? Itu karena kalian tumbuh bersama dengan kepercayaan bahwa “Tanam bibit Apel, maka akan tumbuh buah apel”, Kepercayaan itu bagi kalian adalah saudara, karena kalian tumbuh bersama.

Anggap saja, kepercayaan “Tanam bibit Apel, maka akan tumbuh buah apel” sudah 21 tahun kalian percayai. Kemudian datanglah seseorang yang mengatakan “Tanam bibit Apel, tidak akan tumbuh apa-apa”. Bagaimana tanggapan kalian? MARAH dan MURKA adalah kemungkinan yang akan kalian lakukan.

Manusia mana yang tidak marah jika “Saudara”nya yang ia sudah temani selama 21 tahun, tiba-tiba ada yang menghinanya, mencacinya? Jujur penulis, penulis marah yah.

Hari demi hari berlalu. Kemudian suatu hari, kalian merasa curiga dan ragu akan kepercayaan kalian itu, pastinya kalian akan merasa sedikit berdosa dan rasa-rasa pengaruh psikologi lainnya. Suatu hari keraguan kalian menjadi-jadi.

Setelah kalian cukup ragu untuk melepaskan kepercayaan itu, Satu sisi kalian sedikit merasa bersalah karena kepercayaan itu seperti saudara kalian. Dimana melepasnya sama saja membunuhnya. Akhirnya kalian memutuskan untuk menelitinya sendiri.

Esok hari, kalian membuat percobaan sendiri. Sekarang kalian menanam bibit apel, 1 minggu kemudian tidak tumbuh apa-apa. Kalian mulai berkata “Haha, ternyata memang orang-orang disekitarku semua salah, buktinya tidak tumbuh apa-apa”, 1 bulan kemudian, masih saja tidak ada reaksi apapun. “Haha, dasar ternyata saya sudah salah selama 21 tahun lalu” kalian merasa bebas dari kepercayaan yang salah itu. TIba-tiba esok hari kemudian kalian bangun memeriksa penelitian kalian lagi. “Nampaknya bibit itu mengeluarkan benih-benih tumbuhan”. Apa yang kalian rasakan saat itu?

Bergetar, Seperti kilat menghambat jantung yang berdetak. Waktu dan ruang seakan menyatu, daun-daun yang jatuh berhenti. Kalian seperti tertampar, tetapi tamparan itu adalah sebuah kenikmatan. Kalian merinding, takjub, terpanah dan jujur saja, penulis kwalahan menggambarkan perasaan itu dengan kata-kata. Kemudian kalian terdiam tak dapat lagi berkata-kata.

Kalian diam dalam kepercayaan. 1 bulan kemudian akhirnya bibit apel itu sepenuhnya sudah menjadi Pohon apel yang memberikan kalian buah apel. Kalian semakin diam. Diam dalam keimanan. Tanpa kata, tanpa nama dan tanpa keraguan lagi.

Begitulah yang penulis rasakan, ketika melihat rumah yang selama ini penulis tinggal didalamnya. Rumah itu hampir terlahap oleh api, akibat arus listrik yang koslet pada rumah tetangga. Kalian tau, saat itu penulis berlari menjauh dari rumah, dan berbalik melihat rumah itu. Saat itu, penulis hanya diam. Diam dalam diam. Tapi rasanya aneh, didalam diri ini, seperti memanggil, berharap, memohon kepada sesuatu yang lain… seperti bercakap dengan sesuatu. Nyatanya orang-orang saat itu sedang ramai, namun penulis merasa hanya sendiri, tenang dan damai.

Kalian tahu, itu bukan suatu trauma, bukannya penulis ketakutan karena rumah penulis akan terbakar. Bukan itu yang penulis maksud dengan “TERDIAM”.

Saat itu penulis adalah seorang Mahasiswa “Filsafat”, 1-2 tahun yang lalu. Dimana 1-2 tahun lalu penulis mencoba memungkiri Tuhan itu ada, penulis mulai curiga dengan kepercayaan penulis, penulis mulai mempertanyakan dan merivisi kepercayaan yang ada sejak dari kecil. Penulis membaca buku-buku filsafat, yang ujung-ujungnya adalah pemikiran ATHEIS. Penulis bangga akan hal itu. Karena kala itu adalah kebenaran.

Kalian tahu? Saat peristiwa itu, dimana penulis TERDIAM, penulis yang merasa angkuh, pintar dan punya pemikiran yang luas, tiba-tiba terhantam jatuh… tiba-tiba penulis merasa menjadi makhluk kecil yang tak terlihat dibanding alam semesta, tata surya dan sebagainya. Penulis merasa seperti ADA. Ada TUHAN.

“Apa ini?” Tanyaku kala itu. Hingga sampai saat ini, jika penulis mengingat kejadian itu. Rasanya seperti penulis bisa merasakan “sesuatu itu”. Serius, penulis kesusahan menejelaskannya dengan kata-kata. Haha. Jujur saja pada saat penulis menceritakan kejadian ini sambil mengeti, hal itu membuat penulis merinding.

Nah, inilah yang terjadi, penulis rasa hubungan dengan Tuhan atau “sesuatu itu” merupakan hubungan pribadi atau personal.

Lanjut cerita tentang kepercayaan “Tanam bibit Apel, maka akan tumbuh buah apel”. Setelah kalian mengalami hal tersebut. 1 Minggu kemudian, datanglah seseorang yang mengatakan hal yang sama seperti sebelumnya, yaitu “Tanam bibit Apel, maka akan tumbuh buah apel”. Setelah mendengar hal tersebut, kita-kira apa yang akan kalian katakan? Penulis yakin kalian akan menjabnya dengan cukup bijak. Kenapa cukup bijak? Karena kalian telah mengalami sebuah pengalaman spiritual, dimana hal itu membuat kalian menjadi lebih paham yang namanya sebuah kepercayaan, sebuah iman.

Iman itu, pilihan atau takdir?


Jika kita bertanya, iman itu pilihan atau takdir? Bagaimana menurut kalian? Ok, disini penulis tidak akan memberikan sebuah jawaban. Baiknya kita akan membuat konsekuensi antara Takdir dan Pilihan, sebaiknya kita mulai dengan Iman itu Takdir.

Iman itu takdir, maka yang akan terjadi “Tuhan tidak adil”, mengapa penulis mengatakan hal tersebut. Anggap saja penulis ditakdirkan beragama X (Agama selain X), dan kebenaran yang ada bahwa ISLAM adalah kebenaran. Kemudian datanglah hari penghakiman. Dengan jelas dan berani saya akan mengatakan kepada Tuhan bahwa “e tuhan kamu punya otak gak sih?” haha. Ok jangan diambil hati bro/sis.

Anggap saja tuhan adalah Sutradara yang telah menentukan semua, termasuk penulis sendiri. Penulis ditakdirkan beragama X, kemudian penulis juga sudah ditakdirkan masuk neraka. Pertanyaan yang muncul adalah, Penulis tidak pernah memilih Agama, dan pada akhirnya penulis harus masuk neraka karena beragama X. Ini adalah hal yang tidak masuk akal sama sekali. Anggap saja penulis ditakdirkan untuk membunuh, pada akhirnya penulis harus dihukum karena sudah membunuh. Kok tuhan tidak adil yah? Dia sendiri yang menyuruh atau mentakdirkan penulis untuk membunuh dan pada akhirnya setelah penulis melaksanakan tugas tersebut, penulis malah dihukum. Letak keadilan tuhan dimana?

Yaps. Sudah tentu Tuhan tidak adil jika iman atau kepercayaan adalah takdir. Kalau menurut penulis, penulis hanya mendapatkan beberapa jawaban yang paling pasti, yang mana yang dikatakan takdir. Takdir itu seperti sunnatullah (Hukum Alam) misalnya, Api itu panas dan sebagainya. Dan untuk manusia sendiri, misalnya penulis tidak pernah memilih menjadi laki-laki, penulis tidak pernah memilih mempunyai hidung yang tinggi, penulis tidak pernah memilih terlahir gagah, haha. Serius. Penulis tidak pernah tuh mengajukan proposal kepada tuhan tentang apa yang penulis peroleh saat ini. Oleh karenanya Takdir itu hanya dapat diterima dan disyukuri.

So, iman itu adalah pilihan. Lalu apa konsekuensi dari Iman itu pilihan? Tentu semua pilihan punya konsekuensi, berbeda dengan takdir, tidak ada konsekuensi sama sekali, misalnya kalian terlahir cacat atau ditakdirkan cacat, kalian tidak akan mendapatkan dosa atau dihukum karena terlahir cacat, karena itu adalah takdir, karena itu kalian tidak memilih untuk cacat.

Lalu bagaimana jika iman itu pilihan? Misalnya seperti ini, anggap saja didepan kalian ada dua jalan, kalian harus menentukannya sendiri. Tentunya jalan apapun yang kalian pilih, resikonya kalian tanggung sendiri. Penulis memilih jalan A, dan kemudian pada ujung jalan A tersebut adalah jalan buntu, resikonya penulis harus kembali lagi, karena itu adalah pilihan penulis sendiri.

Jadi, islam itu pilihan. Agama selain itu adalah pilihan. Namun yang jadi masalah disini adalah, Anggap saja islam itu adalah agama yang memang paling benar. Kemudian penulis terlahir dari keluarga islam, lingkungan islam dan Negara yang dominan masyarakatnya beragama islam. Penulis berarti orang yang beruntung dong. Penulis enak dong. Dan sebagainya. Jadi penulis tidak perlu berjuang terlalu keras karena dasarnya penulis sudah beragama islam.

Solusi dari masalah ini adalah terlahir dari agama islam maupun terlahir dari agama X, semua sama saja kecuali didalam hidup ini, kita pernah atau benar-benar sadar memilih sendiri. Memilih sendiri untuk beragama islam, mencari kebenaran sendiri tanpa pengaruh dari luar kemudian menentukan sendiri pilihan tersebut. Dengan kata lain, kita menemukan sebuah ALASAN.

Kesimpulan


Penulis kira manusia itu bukan robot, yang sepenuhnya dikendalikan oleh sesuatu, disini kita punya kehendak untuk memilih. Yang perlu kita lakukan hanya menemukan alasan akan apa yang kita pilih selama ini.

Jangan sampai kita hanya merasa beriman namun belum pernah mencoba untuk beriman. Jangan sampai kita hanya mengetahui namanya namun belum bisa menentukan pemilik sang nama. Jangan sampai kita memilih dengan mata yang buta, jangan sampai otak kita mubasir karena tidak digunakan untuk berfikir dalam menentukan sebuah pilihan.

Kesadaran beragama akan muncul jika kita mengerti akan alasan untuk beragama. Hingga saat ini penulis hanya terus belajar, penulis bukan ahli ibadah, penulis hanya mencoba menjadi seperti itu. Penulis bukan ahli pemikiran, namun penulis mencoba menjadi seperti itu.

Sedikit berbicara tentang gadis itu, gadis itu sudah penulis perhatikan 4 tahun yang lalu, kemudian pada tahun ini, ada perubahan yang terjadi seketika pada dirinya. Jujur saja sebenarnya penulis perhatikan tentu punya maksud yang lain, penulis kagum dengan dia, ingat hanya sebatas kagum.

Yang namanya perubahan tentu cukup mudah, tapi mempertahankan sebuah perubahan itulah yang sulit. Sama halnya ketika kita memilih sebuah kepercayaan, memilih kepercayaan itu cukup mudah, namun konsekuensi yang kita terima setelah memilih, itulah yang sulit.

Sekali lagi penulis katakan, tulisan ini hanya sebuah pemikiran bebas.
Read More

Selasa, 11 Juli 2017

Aku ingin menjadi cepat


Aku dan ke-dia-anku

Silahkan menikmati secangkir filsafatku.


Sebagai manusia yang bereksistensi, kita terlempar pada ruang dan waktu yang selalu bereproduksi. Keterlemparan itu menyebabkan banyakya serpihan aku yang meluber, sehingga perlu untuk mengumpulkan kembali serpihan-serpihan esensi itu. tetapi  sungai waktu terus dan begitu cepat mengalir, sehingga masa lalu telah begitu jauh dari gapaian kita.  Untuk itu Al gazali menyebut jarak yang paling tidak mungkin di tempuh adalah masa lalu. Meskipun dunia digital ( rekaman suara, video, foto, dll) bisa mempertunjukkan sosok kita di masa lalu, tetapi kita di dalam dunia digital itu bukan lagi aku, tetapi aku telah menjadi “dia” “ke-dia-anku”, dalam arti, bahwa keakuan kita tidak lagi ada pada ke- dia-an sosok di dunia digital itu. Aku pada waktu sekarang akan menjadi dia di waktu yang telah lalu untuk diri saya sendiri( sedetik kemudian kalimat ini juga telah menjadi tulisan dia untuk keakuanku pada saat saya mengetik (.)”titik” ). Untuk itu, pada waktu yang bereproduksi, “mungkin” saja Al gazali benar, bila kita selalu baharu, maksudnya waktu itu akan selalu mereproduksi ke aku an ku untuk menjadi aku-aku yang baru. Tetapi dengan kemampuan memori manusia di otaknya, kita mampu untuk mengajak ke-dia-an kita berdialog, untuk kualitas aku yang baru.

Masalah yang bisa timbul dari teori ini akan sangat banyak, salah satunya persoalan moral. Jika kita bertumpu kepada waktu yang bereproduksi, dan menjadikan ke-aku-an ku menjadi dia. Bagaimana dengan seseorang yang berbuat jahat di masa lalu. Apakah orang itu sah untuk membela dirinya bahwa orang yang berbuat jahat di masa lalu itu adalah orang lain?. Saya rasa itu tidak mungkin terjadi, karena ke-dia-an kita ini berasal dari keakuan kita. Maka ke aku an kita sebagai aku primer mempertanggung jawabkan dia sebagai yang berasal dari aku primer. Untuk itu, kita tidak bisa lepas dari masu lalu kita, apa yang di perbuat ke-dia-an kita di masa lalu berdampak pada aku yang baru. Karena waktu itu bereproduksi bukan menciptakan, maka ia akan menjadikan ke akuan kita yang telah lewat, sebagai bahan reproduksi. Sehingga kejahatan orang yang dilakukan di masa lalu akan selalu menjadi tanggung jawabnya setiap kali baru.

Karena rupanya kita bereksistensi di tengah eksistensi sosial dan ekologi atau kita yang bergerak di tengah gerak-gerak, maka kejahatan itu juga harus dipertanggung jawabkan secara sosial dan ekologi. Untuk itu ada hukum yang mengatur lalu lintas gerak eksistensial kita di tengah gerak sosial dan ekologi itu. Hukum itu idealnya tidak boleh fana, tetapi ia tetap dan tidak boleh bergerak, hukum harus adalah ruang. Dan karena ia ruang, kosmos bergerak di dalamnya. Hukum meliputi dan selalu elastis menampakkan nilainya di segala ruang, medium waktu ke-aku-an ku menjadi baru.

Tetapi rupanya pada perkembangannya, gerak manusia itu tergolongkan antara gerak anggota ekologi lainnya, ditambah manusia adalah makhluk yang sadar, manusia membuat penggolongan diri dari gerak makhluk dan ekologi lainnya, ini menyebabkan hukum itu menjadi kompleks dan dipaksa untuk bergerak atau digerakkan oleh manusia. Sehingga hukum itu juga mengelompok. Ada hukum yang di buat oleh manusia untuk manusia  dan hukum yang mengatur manusia dan ekologi. Pada akhirnya manusia terperangkap pada hukum yang berpotensial. Atau hukum yang digerakkan oleh manusia yang bergerak. Maka kemudian hukum itu tidak elastis melainkan dikendalikan oleh aku yang bereproduksi sehingga hukum itu juga mengalami reproduksi dan hukum itu mengalami kebaharuan untuk kepentingan manusia.

 Lalu bagaimana hukum yang ideal itu?.

Hukum itu harus tetap dan selalu mendahului gerak,  dan yang bergerak, bergerak pada hukum yang tentu mendahului gerak. Hukum seperti ini, masih dijaga dengan baik dan sakral oleh alam. Secara tidak sadar manusia masih memiliki tubuhnya yang menjaga dengan baik hukum ini. beserta alam makrokosmos dan dunia binatang. Sebutlah hukum itu sebagai hukum alam, yang tidak mungkin ramah terhadap perbuatan jahat terhadap alam. Seperti seseorang yang melukai tubuhnya dan tubuh orang lain. maka alam akan dengan sendirinya menghukum orang itu tanpa persidangan. Seperti persidangan meja hijau ala manusia.

 Tetapi hukum alam itu sendiri rupanya bukanlah hukum yang tidak bergerak, tetapi hukum ini bergerak bersama dengan alam itu sendiri. Alam rupanya juga bereproduksi dan manusia baru di tengah alam yang juga baru di waktu. Itu berarti alam juga di liputi oleh ruang, maka hukum alam yang universal itu juga tunduk pada hukum yang lebih tinggi, hukum yang mengatur lalu lintas alam. Yakni hukum tetap, keadilan tertinggi, keabadian, tujuan dari gerak manusia.

Karena hukum ideal itu tidak bergerak maka ia tidak ada dimana-mana dan tidak akan kemana-mana. Tetapi karena tetap, hukum itu ada. Tetapi apabila hukum itu tidak bergerak bagaimana ia mengatur setiap gerak yang berwaktu dan pada ruang.

Hukum itu berupa pusat juga poros, seperti geraknya seorang pelaut atau penjelajah yang bertumpu pada sistem arah yang berpusat di kutub utara, Matahari, bintang, arah angin, dsb. Karena hukum itu mendahului pengalaman dan menjadi akhir dari sebuah pengalaman maka hukum itu harus tetap, independen juga apriori.

Dalam tradisi ontologis. Kita bisa menyebut hukum itu sebagai hukum Ada yang mengatur gerak berada-nya ada yang mengada menuju Ada yang berada pada dirinya sendiri. Maka hukum itu tak lain adalah wajib hukum yang berada pada berbagai dimensi, karena dalam mediumnya, manusia mengada di dalam ada yang mengada pada dirinya sendiri. Subjek siapapun dan apapun itu, tunduk kepada hukum Ada.

 Tetapi bagaimana kita bisa menyadari hukum itu?.

Hukum itu sebenarnya selalu nampak kepada kita setiap kali berada pada mengada di waktu sekarang dan ruang di sini. Dalam setiap pengalaman dan proses empiris, hukum itu menampak kepada kita sebelum hitungan/durasi waktu mengada. Kita selalu di arahkan kemana seharunya dan sebaiknya memilih pertanggung jawaban moral dan hukum yang adil. Tetapi karena hukum itu menampak kepada kita dengan kecepatan yang melebihi kecepatan cahaya. Maka sesungguhnya hanya  manusia yang bisa begitu cepat yang mampu menyadari penampakan itu. Manusia yang cepat adalah manusia yang melunturkan dirinya dari dosa ( tindakan yang melemahkan diri ) dengan tobat lalu mengarahkan dirinya pada ke zuhudan terhadap yang duniawi( baca : buatan) yang membuat manusia menjadi lambat dan hanya menyadari hukum itu lewat penyesalan setelah pengalaman.

Maka hanya manusia yang menyadari dirinya sebagai Aku ( aku yang berfilsafat) yang mampu menyadari berbagai hal yang abstrak dan utuh seperti hukum tersebut. Sedangkan ke-dia-an kita adalah aku yang dulu yang telah mengalami serpihan hukum-hukum yang menampak kepada kita. Sungguh, alangkah ruginya orang-orang yang tidak bercengkrama dengan ke-dia-an nya.

Aku yang berfilsafat adalah aku yang bebas. Kebebasan itu adalah paham hukum ideal yang mampu diraih bila aku lepas dari kecemasan aksidental ( cemasnya aku karena akan baru dan lupa juga senjang dengan aku yang dulu). Maka Aku yang berfilsafat akan berkesempatan untuk menjadi paham dengan segala sesuatunya.

Read More

Selasa, 20 Juni 2017

Filsafat Agama : Tentang Cermin

Tentang Cermin
Oleh Ma’ruf Nurhalis (filsafat agama)



Mengisi tema puasa dan transformasi sosial pada perlombaan esai gema dan semarak ramadhan, DEMA fakultas Ushuluddin,filsafat dan politik UIN Alauddin.

Silahkan di nikmati.

Cermin berbentuk datar di lemari atau di mana saja, sangat membantu kita agar percaya diri. Aku sendiri selalu berada dihadapannya saat aku ingin melihat diriku. Selepas membersihkan diri, aku bersolek, ria, bersisir manja-manja dan merapikan pakaian di hadapannya.
Barangkali, tidak ada yang salah dengan rutinitas bercermin itu. Tapi sesungguhnya, bercermin itu sebenarnya aneh. Bila di sadari, saat bercermin kita sedang melepaskan dan melupakan ke akua kita sebagai diri yang asli. Dan terpaku kapada aku yang berada di balik cermin itu yang hanyalah pantulan tubuhku karena terbentuk oleh dukungan cahaya?, biasa di sebut ilusi optik.

Perhatikanlah dan cobalah untuk berdiri di hadapan cermin datar yang di sinari cahaya secukupnya. Cobalah tatap dirimu di dalam cermin itu. jika di tatap lama-lama, maka mungkin kau akan jatuh cinta dengan dia yang berada di balik cermin itu. tetapi kau bukan sedang mencintai dirimu tetapi kau mencintai bentuk diri di balik cermin itu. barangkali, suasana bercermin seperti itulah yang di rasakan Narsius(kisah Yunani kuno) sehingga ia jatuh cinta dengan wajahnya sendiri.

Cobalah sejenak untuk berpikir, sempatkanlah untuk mengingat, pernahkan kau merasakan jatuh cinta. Bila dirimu telah melewati masa puber. Besar nian Jatuh cinta itu sudah di rasakan. Namun, seperti keadaan bercermin, kita hanya pandai jatuh cinta dengan apa yang berada di hadapan kita. Seperti seorang lelaki yang sibuk mengejar cinta seorang perempuan di hadapannya, dan seorang perempuan yang sibuk mengejar kecantikan untuk di puji orang di hadapannya, juga manusia umumnya menyibukkan diri untuk segala sesuatu di luar dirinya. Kita memang hanya pandai mencintai apa yang berada di luar diri kita.

Bercermin adalah proses di mana kita sedang mengurus kepercayaan diri kita dengan ilusi agar mendapat pujian. Kita selalu mempercantik diri di depan cermin bukan untuk diri kita sendiri tetapi untuk kepentingan orang lain. cermin itu akan membuat diri kita menjadi palsu. Karena saat bercermin kita hanya sedang melihat pantulan diri kita yang asli. Dan orang hanya melihat tubuh kita bukan apa yang ada di balik tubuh itu.

Sekarang sudikah kita untuk melepaskan diri dari rutinitas menghadap di cermin. Dan bisakah kita menjadikan diri kita sendiri sebagai cermin. Sebutlah cermin itu adalah akal dan intuisi kita. Proses bercermin yang di antarai oleh pertanyaan, “siapakah aku?, dari mana kah aku?, dan kemanakah gerangan aku?”, lalu biarkan anda menjawabnya sendiri. Itulah bercermin tanpa pantulan dari cahaya Indrawi. Tanpa terlena oleh ilusi optik.
Mumpung, kita masih berada di bulan Ramadhan, saat di mana kita sedang rajin untuk berpuasa (menahan) dari kebutuhan nabati dan hewaniyah. Cobalah juga untuk menahan diri agar tidak menjadi subjek palsu yang selalu saja mengandalkan cermin untuk menjadi manusia.

Puasa adalah proses di mana manusia mestinya mengadakan dialog, juga dialektika antara ke-aku-an dan ke-dia-an lewat lontaran pertanyaan esensial. Puasa adalah cermin dalam bentuk lebih universal. Kita berdiri di hadapan cermin tanpa cahaya, kecuali cahaya intelek. Karena cermin itu tidak berbentuk sebagai mana cermin di rumahmu. Tapi cermin itu berbentuk pertanyaan-pertanyaan yang melatih kita untuk menjadi subjek yang sadar diri.

Marilah menjalani sisa puasa di bulan Ramadhan dengan selalu menahan ke-aku-an kita pada jalan yang lurus. Juga, lepaskanlah cermin aksidental yang membuat-mu sibuk untuk menjadi orang lain. rajin-rajinlah untuk bercermin kepada diri sendiri. Cobalah untuk menjadi subjek yang sadar diri, yang sibuk pada hal-hal yang esensial.

Barangkali dengan maraknya subjek yang sadar diri, kita tidak hidup lagi di luar rumah dengan mengandalkan cermin di kamar atau di lemari. Tapi mengandalkan kebebasan kita agar melihat dunia ini lebih luas tanpa bantuan cermin. Karena perubahan sosial yang ideal di awali dari membersihkan diri dari segala bentuk kepalsuan, marilah mengawalinya dengan membersihkan diri di bulan puasa ini.
Read More

Sabtu, 17 Juni 2017

Jangan jadi hewan kampungan

 


Karena pohon tegak bila akar tidak mati. jadi sistem tidak jalan bila sumbat. kedamaian itu air asi. tapi sistem lancar kalau ada jabat.
Boleh teriak orang karena kuasa. tapi orang berkuasa pandai puasa. hati dan akal harus punya jasa. jangan sampai kebodohan  buat diri-diri merana.
Butuhlah orang bertindak. tapi hindarkan kepala bertanduk.
Tindak dengan cita-cita tinggi. bukan sesaat dan cari lubang laksana tikus kelaparan. bukan mental kecoa. Serangga yang mudah terbalik urung bangkit. bukan pula Belalang Sembah. Kerjanya hanya Menyembah. Bukan pula Anjing. Jadi kenal tuan kalau ajak sana-sini. bukan pula kontruksi manusia. Karena pikiran bisa lampaui Aristoteles. intinya jangan Jadi hewan kampungan.
Read More

Jumat, 16 Juni 2017

Secarik Refleksi :Agama dan Larangan

Selamat datang pembaca kami yang budiman, selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan. Tulisan saya kali ini akan mengajak pembaca berdikusi tentang posisi alasan kenapa larangan Tuhan musti ada. Ini hanya refleksi, benar dan kurang benarnya mari benahi.
selamat ber-refleksi!
dosa haram pahala
Sumber: guidedislam.com
Haram bukan soal larangan tuhan, tapi itu tuntutan sosial!

Saya mulai bertanya tanya, kenapa dalam islam begitu banyak larangan dalam perbuatan. Larangan yang tampaknya membatasi gerak dan kebebasan ini nyatanya tidaklah benar benar membebani umat yang menjalani. Justru sebaliknya para penganut ajaran islam justru enjoy saja dalam menjalani larangan tersebut. bahkan kalau mau melihat sisi lain dari larangan ini, maka keteraturan dan kedamaian sera control terhadap hidup akan berjalan mudah.

Sesuatu yang Nampak seolah olah membatasi perilaku manusia ini tidaklah berat dijalani. Mengapa? karena yang di larang dalam islam pun sebenarnya adalah segala sesuatu yang pada dasarnya berhubungan dengan si pelaku perbuatan tersebut. tidak ada hubunganya dengan Tuhan, kecuali sesuatu yang memang menjadi keharusan buat-Nya yaitu ibadah.

Ibadah juga sebenarnya hanya merupakan perintah kecil dari Tuhan yang musti dilaksanakan. Sebagai bentuk balas budi manusia kepada tuhan oleh karena segala pemberiannya. Balas budi ini tentu akan sangat tidak enak dilakukan kalau diperintahkan oleh seseorang yang pernah berbuat baik kepada kita. Terlebih dalam hal ini yang memberi manusia kehidupan, Tuhan. Ini juga hanya berlaku bagi manusia yang mengaku hamba Tuhan, sebagai hamba maka perintah Tuhan (kewajiban) merupakan sesuatu yang inheren dalam diri manusia.

Kira kira begini tipologinya. Saya memiliki seorang teman. Dia selalu saja ada untuk saya, sebut saja misalnya saya numpang di rumahnya, tinggal dengan keluarganya karena saya melarat. Segala kebutuhan hidup di tanggung, dan kalau si teman butuh bantuan saya selalu berusaha untuk membantu. Di sana ada relasi timbal balik antara saya dan teman saya tersebut. relasi ini diikat oleh karena saling membutuhkan dan saling hutang budi.

Namun yang sebenarnya paling banyak berhutang budi di antara kami adalah saya, karena kelangsungan hidup saya bergantung secara fisik kepada dia. Olehnya secara inheren saya akan berfikir bahwa kalau bukan karena dia, saya sudah mati mungkin saja. Maka dari itu, apapun permintaan teman saya tersebut saya selalu memunuhi sebisa mungkin. Akan ada perasaan tidak enak kalau saya menolak permintaanya.

Nb: contoh ini bisa saja salah kamprah, tapi secara intuitif, kira kira begitulah yang terjadi kalau kita dalam posisi yang sama.

Dalam konteks tuhan, sifat kebergantungan seperti ini berlaku juga. Bahkan dalam konteks yang lebih besar. Bagi yang mengaku hamba maka permintaan tuhan tersebut musti dijalankan, apapun alasanya. Tapi lagi lagi dalam konteks itu, tentu tidak dapat disangkal, dan musti dilaksanakan.

Namun, apa yang sebenarnya terjadi adalah segala larangan tersebut selalu kembali kepada manusia itu sendiri. Tidak mungkin suatu larangan ada kalau tidak ada hubunganya dengan diri sendiri juga orang lain. Dan yang terpenting pula menjadi indikator adalah faktor manfaat dan celakanya bagi si manusia itu sendiri. Atau dalam bahasa agamanya, kalau lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya, sebaiknya tinggalkan perbuatan tersebut. dan pada kutub yang paling ekstrim, haram hukumnya perbuatan itu.

Dalam koridor tersebutlah, takaran larangan perbuatan manusia dibatasi olen orang lain, seperti yang pernah dikatakan oleh James Smith yang kira kira bunyinya “kebebasan manusia dibatasi oleh orang lain”. Faktor kenyamanan disini sangat diperhatikan. Kenyamanan untuk diri sendiri terlebih untuk orang lain. Terlebih sebagai mahluk sosial, kita tidak mungkin bisa ada tanpa orang lain, karena prasyarat mengada bagi manusia adalah adanya manusia yang lain.

Misalnya, kenapa mencuri itu haram, karena itu merugikan orang lain. Terlebih lagi dapat merugikan diri sendiri, karena berpotensi digebukin satu kampung. Dalam sejarah mencuri, terkisahkan telah banyak pelaku pencurian yang babak belur diamuk massa. Ini tentu selain merugikan orang lain juga merugikan diri sendiri. Kecuali si pencuri ikhlas dikroyok setelah mencuri dan merasa kroyokan itu tidak merugikan dan membahayakan diri sendiri, mungkin mencuri akan menjadi diperbolehkan.

Atau kalau saja mencuri itu malah saling mengungtukan, maka mungkin saja akan menjadi halal. Akan tetapi dalam konteks ini nampaklah bukan saling menguntungkan, tapi merugikan. Okelah kalau si pencuri di untungkan, tapi hanya sesaat saja. Kalaupun juga di untungkan toh ujung-ujungnya merugi juga. Kecuali ya pemcuri uang rakyat, kalo itung itung mudaratnya, mungkin paling dikit diantara jenis mencuri yang lain. Bahkan kalo di hukumpun bisa dapat fasilitas, ah enak bener gan..

NB: kalau anda ingin mencuri, maka berdasilah. Hanya pencuri berdasilah yang bisa merasakan nikmatnya mencuri. Ini bukan hoax. Cobalah!

Demikian pentingya memahami bahwa salah satu konteks penyebab pengharaman adalah berkaitan erat dengan masalah relasi sosial. Masalah dosa lebih banyak disebabkan karena ketidakteraturan hubungan sosial, bukan masalah Tuhan. Tuhan dalam hal apapun tidak pernah bergantung pada manusia. bahkan tidak sholatpun, nggak ngefek buat Tuhan.

Olehnya bisa dipahami itu bukanlah dosa. Kok bisa? Tuhan tidak ngefek dengan ibadah manusia, tindakan manusia juga toh kembali kepada manusia. jadi tidak ada hubungannya dengan Tuhan. Tindakan manusia ya manusia sendiri yang tanggung. Manusia bukan tidak tau resiko, tapi mereka nyaman dengan yang dihadapi. Kalau tindakan manusia bergantung pada dirinya dan ia rela, maka itu bukan dosa.

Toh, Tuhan mau apa dengan dosa manusia. kan nggak ada. Kalo dari awal tuhan tidak butuh ibadah manusia, terus tuhan mau hukum manusia karena ibadah. Kan nggak masuk akal. Yah sudahlah, tidak layak kiranya menyoal hubungan individual dengan Tuhan, biarlah ia mengalir dalam senyap.

Satu hal yang menurut saya perlu kita kaji kembali bahwa segala larangan dalam islam tidak pernah terlepas dari dua kutub yang berusaha dilindungi. yaitu relasi sosial yang berlangsung antara sesame manusia. larangan dan pengharaman tidak luput dari dua kutub tersebut. hanya dengan control dalam dua hal tersebut sajalah hidup dapat berjalan dengan damai.
Read More

Kamis, 15 Juni 2017

Refleksi Ramadhan: bulan puasa dan fenomenanya

Ramadhan dan Islam Musiman
Tulisan ini merupakan ramuan yang penulis coba sarikan dari beberapa pandangan kritis Wahyuddin Halim, Ph. D terhadap bulan Ramadhan ketika mengisi mata kuliah di Kelas Filsafat, UIN Alauddin Makassar. Semoga berkenan dan bermanfaat!
Sumber: prayertimesdubai.net


Bulan Ramadhan atau bulan puasa, begitu sebagian orang menyebutnya, merupakan bulan penuh berkah bagi ummat islam. Di bulan ini, Allah akan melipat gandakan pahala bagi mereka yang meninggkatkan ibadah serta amalan amalnya. Doktrin keagamaan ini kemudian menjadi motivasi dasar bagi kebanyakan ummat islam dalam melaksanakan ibadah. Maka tidak heran, tempat ibadah dan keramahan berduyun-duyun pada bulan ini.

Tidak sampai di situ, momentum ramadhan dimanfaatkan juga sebagai special moment bagi penjual makanan, terutama penjual takjil buka puasa, penjual songkok, mukena dan baju lebaran. Seakan taken for granted, tiba tiba pinggiran jalan menjadi pasar dadakan, di titik titik tertentu menjadi pusat berkumpul beberapa penjual dan menjajakan dagangan. Tentu ini adalah pemandangan langka yang luput dari perhatian sebagai penghayatan akan transformasi relasi sosial, kecuali bagi segelintir orang saja. Mengapa? Itula euphoria puasa

Bukan hanya di jalanan, tempat ibadah menjadi ladang tersendiri bagi para da’i. Da’I kondang maupun dadakan kebanjiran orderan ceramah. Sampai sampai kesulitan mengatur jadwal ceramah, mulai dari ceramah ba’da shalat tarwih sampai ba’da subuh. Fenomenan ini oleh sebagian orang menyebutnya sebagai berkah bulan ramadhan, sebagian lagi menyebutnya sebagai, lahan mata pencaharian, seperti yang pernah saya lakukan beberapa tahun lalu. Kalimat yang terakhir, please Jangan ditiru.

Fenomenan-fenomena keagaaman inilah yang menjangkiti islam hari ini. Statistik ibadah umat islam pada bulan ini mencapai angka fantastik dalam grafik intensitas ibadah dan amali. Ini tentu merupakan sebuah pencapaian yang baik, terlebih kalau mampu mempertahankan sampai bulan-bulan selanjutnya. Bukan hanya menjadi muslim pada bulan suci ramadhan saja, tapi menjadikannya sebagai ibadah yang bersifat kontinue hingga bulan ramadhan selanjutnya.

Ah.. kadang saya sendiri menyebutnya fenomena ini sebagai islam musiman, bagaimana tidak euforia ibadah hanya meningkat drastis di bulan ramadhan saja. Sementara dibulan bulan lain, masjid semacam kehilangan daya tarik. Pesonanya hilang bersama selimut Ramadhan yang tenggelam di senja Syawal. Kalau ada yang masih membawa nyalanya hingga ke mata, maka dibawanya Ramadhan pada hati yang masih membara. Dan kalau ada satu shaff penuh dalam shalat berjamaah itu Alhamdulillah. lah kalau tidak, ya itulah islam musiman.

Menurut Wahyuddin Halim, seperti dijelaskan dalam hadis Nabi yang di riwayatkan oleh muttafaqqun ‘Alaih, bahwa Tuhan lebih menyukai ibadah yang terus menerus meskipun sedikit, bukan sebaliknya. Ramahdan bukanlah bulan menabung, tuturnya, ibadah seharusnya sama saja dengan hari hari lain. ibadah yang kontinue pada bulan sebelumnya seharunya dapat lebih di tingkatkan pada bulan ramahdan, dan yang lebih penting lagi menurutnya, ibadah pada bulan ramadhan dapat di jalan secara kontinue dan istiqomah pada bulan-bulan selanjutnya.

 Di sisi lain, seperti halnya penceramah kondang tidak benar-benar menambah pengetahuan baru dalam isi ceramah-ceramahnya. Isi ceramah yang berbobot tidak benar benar diimbangi dengan lawakan. Sehingga kadang saya sendiri berfikir bahwa, penceramah tidak jauh beda dengan stand up comedi. Dalam kacamata wahyuddin halim, ceramah dibeberapa tempat tidak benar benar menambah bobot ibadah. Jamaah hanya di buat ketawa-ketiwi, lalu lupa apa yang disampikan penceramah.

Pernah sesekali dalam ceramah, ia menyanyakan kepada jamaah bisakah jamaah mengulang inti ceramah dari hari pertama sampai malam ke sepuluh?. Perntanyaan ini, bagi saya sendiri, bukanlah sebuah tantangan apalagi olok-olokan terhadap jamaah. Tapi merupakan refleksi penting dan sentilan bagi tiap tiap pribadi yang merasa diri penting melakukan perubahan dan dalam jangkauan yang lebih luas, sebagai agen transformasi sosial. Ini merupakan tanggung jawab bersama dalam saling mengingatkan.

Masih dalam kacamata Wahyuddin Halim, bulan ramadhan oleh sebagain muda-mudi juga dijadikan sebagai bulan romantis. Pertemuan atas nama agama dibenarkan dengan berbagai alasan. Mulai dari saling mengingatkan waktu sahur, ucapan selamat berbuka puasa, sampai saling membonceng pulang pergi shalat tarwih.

“Ramadhan itu itu di hati, bukan lingkungan” kata beliau di akhir kelas. Yang membuat sesuatu itu terasa beda adalah karena kita sendiri yang membuat perpedaan. Kita menambahkan atribut dan keramaian dalam situasi tertentu. Demikian dengan bulan ramadhan, ramadhan di Indonesia memiliki atmosfer yang begitu hebat. Kesemuanya itu adalah karena kita yang membuatnya, dengan meningkatnya titik-titik pasar dadakan, cepatnya lantunan ayat suci di corong masjid, sampai membludaknya jamaah dimasjid dan lainya. Namun jangan lupa bahwa ramadhan itu hakikatnya di hati, hubungan vertikal Ilahiah harunsya menjadi inti, bukan persoalan aksidental lainya.

Lantas bagaimana bulan puasa atau Ramadhan dapat menjadi sarana tranformasi sosial? Oleh karena yang terpenting dalam ramadhan adalah kontinuitas ibadah, maka penting kiranya membenahi niat dalam menjalani ibadah puasa. Puasa bukanya hanya berarti menahan lapar dan hawa nafsu, lebih dari itu, mengutip tulisan Dr. Sabara Nuruddin di facebook, puasa dijadikan sebagai media untuk mengendalikan kecenderungan kecenderungan ragawiyah yang berbetik dalam hati dan fikiran, termasuk sebagai peroses membunuh bengkalai hewaniah dalam jiwa.

Jika kita mampu mencapai level kedua ini, insyaallah, efek puasa bukan hanya akan di rasakan bagi diri sendiri, namun dalam penerapan dalam kehidupan akan lebih mantap dan baik. Kemampuan ini, menurut kami, akan mentransformasi diri serta tindakan sekaligus. Bukan cermin ibadah akan di temukan dalam relasi sosial. Jika ibadahnya baik, maka kecenderungan tindakannya akan musti baik. Atau dengan kata laina, jika hubungan dengan  Tuhan baik, maka bisa di pastikan hubungan dengan manusia akan baik pula.

Demikian pula dijelaskan dalam surah Al-Ma’un, bahwa termasuk mendustakan agama mereka yang shalat, tetapi tidak memiliki kepekaan sosial. Sehingga jelaslah bahwa jenis epistemologi dalam islam bersifat relasional. Antara yang satu dan lainya saling berkaitan dan melengkapi. Sehingga dapatlah di mengerti mengapa ibadah yang satu dan yang lainya memiliki effect domino dalam relasi sosial.

Semoga bermanfaat dan selamat menjalankan ibadah puasa dengan hikmat.
Read More

Senin, 12 Juni 2017

Cinta yang hakikat

CINTA YANG HAKIKAT


Kali ini saya bisa merasakannya. Sejak kemarin rasa itu hanya bisa samar-samar saja terpahami. Laksana kelilawar yang menerka cahaya mentari.  Rasa itu adalah soal cinta.

Cinta itu rupanya dapat membunuh, tapi tiada cinta itu mampu berakhir mati. Cintapun walau akan berakhir terbunuh pastilah akan tetap hidup. Karena cinta rupanya tak berjasad, tapi malangnya di rasakan oleh yang berjasad dan tiadalah jasad itu mampu mengerti cinta. Kalaupun akan mahfum, tiadalah cinta itu membawa bahagia. Hanyalah bila melepaskan cinta dari jasad,  datanglah cinta itu membawa berkah.

Namun, banyak malang kian nasib pemuda-pemudi yang merasakan cinta. Mereka jadikan jasad lawan jenis sebagai peng-objek-an cinta. Cinta itu di jadikannya sebagai yang bertubuh. Kalapun bukan tubuh perempuan adalah tubuh lelaki. Cinta itu jadilah sejajar dengan kecantikan ataulah ketampanan. Dan tiada lah timbul cinta tanpa elok rupa tubuh. Padahal banyak orang bijak sudah berpesan soal cinta “cinta kepada tubuh adalah eros”. Barang siapa yang mencinta karena tubuh, siaplah ia menderita karena tak mampu untuk mengendalikan cinta yang tak punya tubuh itu.

Jikalau saja cinta itu bertubuh dan berhenti di situ saja, maka tiadalah cinta itu dapat mendatangkan berkah dan tiadalah para pecinta itu menjadi orang yang besar. Jikalau orang mengerti cinta dan bersahabatlah ia dengan cinta, maka orang itu jadilah tahu bahwa cinta itu adalah universal. Bila saja orang melepas cinta dari keinginan bersetubuh maka lepaslah cinta itu untuk seluruh umat manusia. Sebagai mana Tuhan mencintai hambanya, begitu juga cinta seorang ibu kepada anaknya. Tiadalah orang juga mampu mencintai kosmos jika ia sempitkan cinta pada keinginan diri saja.

Namun rupanya untuk mencintai sebagaimana Tuhan mencintai, amatlah susah persoalan. Tiadalah Tuhan itu berkawin, apalagi beranak. Namun, Tuhan menjadikan kita untuk berpasang-pasangan dan dapat pula beranak-pinak. Dan untuk menjalankan keterlemparan itu. akan dapat kita rasakan benturan yang terjadi. Namun tiadalah Tuhan menciptakan sesuatu yang tak mengandung hikmah.

Banyak orang bijak bestari dari timur berkata “ alam ini terbagi menjadi dua, alam makrokosmos ialah alam nan luas ini dan alam mikrokosmos ialah alam diri manusia.”. barangkali jika berturut Universal. Cinta itu bisa menjadi makrokosmos, bisa pula menjadi mikrokosmos. Hingga dalam kitab persetubuhan Kamasutra menganggap bahwa siapa yang ikhlas mencintai pasangannya akan cintalah ia kepada seluruh alam semesta.

Bagaimana maksud perkataan itu?, boleh lah kita jelaskan seperti ini.

Telah di sunnahkan sabda Semesta. kita harus mengalami persetubuhan dalam ikatan rumah tangga agar dapatlah kita membedakan halal dan haram. Untuk mengalami persetubuhan, orang bisa saja melakukan tanpa cinta. Tetapi ketidakpuasan menyiksakan lubuk hatinya maka tiadalah nikmat persetubuhan itu datang tanpa cinta. Yang datang hanyalah keresahan mental dan siksaan fisik. Jadilah perzinahan itu membawa sakit jiwa.

Orang butuh cinta, orang mesti paham cinta sebelum ia mengalami persetubuhan. Tiadalah para pemuda dan pemudi itu melakukan seks di luar yang halal kecuali bentuk perzinahan yang membawa kesusahan dalam hidup.

Maka dari itu tiadalah cinta itu ada pada pandangan pertama. Karena sungguh cinta itu tak patutlah hanya menjadi pandangan. Jika hanya menjadi pandangan, kalau buta mata orang maka hilanglah sudah cinta itu. cinta yang patut adalah cinta yang bungkam. Maksudnya, cinta itu adalah pembawaan diri. Cinta adalah pemasukan kedalam diri. Tiadalah orang mampu mencintai sebelum ia mencintai dirinya sendiri. Tidak timbullah cinta tanpa cinta kepada diri sendiri. Kalaupun timbul amat susah membedakannya dengan hasrat atau bisalah di sebut sebagai nafsu. Sungguh jikalau seseorang belum bisa mencintai dirinya sendiri amat dekatlah ia dengan setan. Amat mudahlah ia terbawa bisikan setan. Dan setan yang paling akbar adalah nasib. Orang yang tidak mencintai dirinya akan mudah dikendalikan oleh nasib.

Lalu bagaimanakah orang yang telah cinta kepada dirinya?.

Dialah orang yang mencintai tetangganya. Bilalah ia di tampar orang, tiada ia akan membalas kecuali hanya menawarkan pipi yang lainnya. Tiadalah ia hanya menyebut nama seorang, kecuali ia hanya menyebut Tuhan. Tiadalah ia mampu membenci, karena sesungguhnya bilalah ia menjadi orang yang benci, berarti ia juga akan benci Tuhan. Maka jadilah orang itu sebagai pecinta. Dan tiadalah orang sembarang mendapat gelar pecinta. Karena ia hanya mampu menjadi pecinta, bila ia telah mencintai dirinya. Jikalau orang telah mencintai dirinya, tiadalah dia akan merasakan benci lagi. Jika ia tiada membenci dirinya, maka hanyalah cinta yang ada pada dirinya.

Namun tidak banyak orang mampu menjadi pecinta. Banyak pula orang mencinta hanya saja menjadi pula pembenci. Jika diambil orang pacarnya, jadi lah ia menjadi sengsara. Dan kumatlah bencinya kepada orang yang pernah di cintainya dengan tulus. Jika saja orang masih mengandaikan cinta sebatas pacar-memacari. Tiada orang bisa mencintai dirinya sendiri. Tiada orang mampu bahagia. Padahal bahagia itu bisalah tercapai jika tercapai cintanya. Orang bisa bahagia jika ia pula mampu meninggikan cita-cita serta kehormatannya.

Demikianlah yang hakikat dari kulit cinta
Read More