Selasa, 11 Juli 2017

Aku ingin menjadi cepat


Aku dan ke-dia-anku

Silahkan menikmati secangkir filsafatku.


Sebagai manusia yang bereksistensi, kita terlempar pada ruang dan waktu yang selalu bereproduksi. Keterlemparan itu menyebabkan banyakya serpihan aku yang meluber, sehingga perlu untuk mengumpulkan kembali serpihan-serpihan esensi itu. tetapi  sungai waktu terus dan begitu cepat mengalir, sehingga masa lalu telah begitu jauh dari gapaian kita.  Untuk itu Al gazali menyebut jarak yang paling tidak mungkin di tempuh adalah masa lalu. Meskipun dunia digital ( rekaman suara, video, foto, dll) bisa mempertunjukkan sosok kita di masa lalu, tetapi kita di dalam dunia digital itu bukan lagi aku, tetapi aku telah menjadi “dia” “ke-dia-anku”, dalam arti, bahwa keakuan kita tidak lagi ada pada ke- dia-an sosok di dunia digital itu. Aku pada waktu sekarang akan menjadi dia di waktu yang telah lalu untuk diri saya sendiri( sedetik kemudian kalimat ini juga telah menjadi tulisan dia untuk keakuanku pada saat saya mengetik (.)”titik” ). Untuk itu, pada waktu yang bereproduksi, “mungkin” saja Al gazali benar, bila kita selalu baharu, maksudnya waktu itu akan selalu mereproduksi ke aku an ku untuk menjadi aku-aku yang baru. Tetapi dengan kemampuan memori manusia di otaknya, kita mampu untuk mengajak ke-dia-an kita berdialog, untuk kualitas aku yang baru.

Masalah yang bisa timbul dari teori ini akan sangat banyak, salah satunya persoalan moral. Jika kita bertumpu kepada waktu yang bereproduksi, dan menjadikan ke-aku-an ku menjadi dia. Bagaimana dengan seseorang yang berbuat jahat di masa lalu. Apakah orang itu sah untuk membela dirinya bahwa orang yang berbuat jahat di masa lalu itu adalah orang lain?. Saya rasa itu tidak mungkin terjadi, karena ke-dia-an kita ini berasal dari keakuan kita. Maka ke aku an kita sebagai aku primer mempertanggung jawabkan dia sebagai yang berasal dari aku primer. Untuk itu, kita tidak bisa lepas dari masu lalu kita, apa yang di perbuat ke-dia-an kita di masa lalu berdampak pada aku yang baru. Karena waktu itu bereproduksi bukan menciptakan, maka ia akan menjadikan ke akuan kita yang telah lewat, sebagai bahan reproduksi. Sehingga kejahatan orang yang dilakukan di masa lalu akan selalu menjadi tanggung jawabnya setiap kali baru.

Karena rupanya kita bereksistensi di tengah eksistensi sosial dan ekologi atau kita yang bergerak di tengah gerak-gerak, maka kejahatan itu juga harus dipertanggung jawabkan secara sosial dan ekologi. Untuk itu ada hukum yang mengatur lalu lintas gerak eksistensial kita di tengah gerak sosial dan ekologi itu. Hukum itu idealnya tidak boleh fana, tetapi ia tetap dan tidak boleh bergerak, hukum harus adalah ruang. Dan karena ia ruang, kosmos bergerak di dalamnya. Hukum meliputi dan selalu elastis menampakkan nilainya di segala ruang, medium waktu ke-aku-an ku menjadi baru.

Tetapi rupanya pada perkembangannya, gerak manusia itu tergolongkan antara gerak anggota ekologi lainnya, ditambah manusia adalah makhluk yang sadar, manusia membuat penggolongan diri dari gerak makhluk dan ekologi lainnya, ini menyebabkan hukum itu menjadi kompleks dan dipaksa untuk bergerak atau digerakkan oleh manusia. Sehingga hukum itu juga mengelompok. Ada hukum yang di buat oleh manusia untuk manusia  dan hukum yang mengatur manusia dan ekologi. Pada akhirnya manusia terperangkap pada hukum yang berpotensial. Atau hukum yang digerakkan oleh manusia yang bergerak. Maka kemudian hukum itu tidak elastis melainkan dikendalikan oleh aku yang bereproduksi sehingga hukum itu juga mengalami reproduksi dan hukum itu mengalami kebaharuan untuk kepentingan manusia.

 Lalu bagaimana hukum yang ideal itu?.

Hukum itu harus tetap dan selalu mendahului gerak,  dan yang bergerak, bergerak pada hukum yang tentu mendahului gerak. Hukum seperti ini, masih dijaga dengan baik dan sakral oleh alam. Secara tidak sadar manusia masih memiliki tubuhnya yang menjaga dengan baik hukum ini. beserta alam makrokosmos dan dunia binatang. Sebutlah hukum itu sebagai hukum alam, yang tidak mungkin ramah terhadap perbuatan jahat terhadap alam. Seperti seseorang yang melukai tubuhnya dan tubuh orang lain. maka alam akan dengan sendirinya menghukum orang itu tanpa persidangan. Seperti persidangan meja hijau ala manusia.

 Tetapi hukum alam itu sendiri rupanya bukanlah hukum yang tidak bergerak, tetapi hukum ini bergerak bersama dengan alam itu sendiri. Alam rupanya juga bereproduksi dan manusia baru di tengah alam yang juga baru di waktu. Itu berarti alam juga di liputi oleh ruang, maka hukum alam yang universal itu juga tunduk pada hukum yang lebih tinggi, hukum yang mengatur lalu lintas alam. Yakni hukum tetap, keadilan tertinggi, keabadian, tujuan dari gerak manusia.

Karena hukum ideal itu tidak bergerak maka ia tidak ada dimana-mana dan tidak akan kemana-mana. Tetapi karena tetap, hukum itu ada. Tetapi apabila hukum itu tidak bergerak bagaimana ia mengatur setiap gerak yang berwaktu dan pada ruang.

Hukum itu berupa pusat juga poros, seperti geraknya seorang pelaut atau penjelajah yang bertumpu pada sistem arah yang berpusat di kutub utara, Matahari, bintang, arah angin, dsb. Karena hukum itu mendahului pengalaman dan menjadi akhir dari sebuah pengalaman maka hukum itu harus tetap, independen juga apriori.

Dalam tradisi ontologis. Kita bisa menyebut hukum itu sebagai hukum Ada yang mengatur gerak berada-nya ada yang mengada menuju Ada yang berada pada dirinya sendiri. Maka hukum itu tak lain adalah wajib hukum yang berada pada berbagai dimensi, karena dalam mediumnya, manusia mengada di dalam ada yang mengada pada dirinya sendiri. Subjek siapapun dan apapun itu, tunduk kepada hukum Ada.

 Tetapi bagaimana kita bisa menyadari hukum itu?.

Hukum itu sebenarnya selalu nampak kepada kita setiap kali berada pada mengada di waktu sekarang dan ruang di sini. Dalam setiap pengalaman dan proses empiris, hukum itu menampak kepada kita sebelum hitungan/durasi waktu mengada. Kita selalu di arahkan kemana seharunya dan sebaiknya memilih pertanggung jawaban moral dan hukum yang adil. Tetapi karena hukum itu menampak kepada kita dengan kecepatan yang melebihi kecepatan cahaya. Maka sesungguhnya hanya  manusia yang bisa begitu cepat yang mampu menyadari penampakan itu. Manusia yang cepat adalah manusia yang melunturkan dirinya dari dosa ( tindakan yang melemahkan diri ) dengan tobat lalu mengarahkan dirinya pada ke zuhudan terhadap yang duniawi( baca : buatan) yang membuat manusia menjadi lambat dan hanya menyadari hukum itu lewat penyesalan setelah pengalaman.

Maka hanya manusia yang menyadari dirinya sebagai Aku ( aku yang berfilsafat) yang mampu menyadari berbagai hal yang abstrak dan utuh seperti hukum tersebut. Sedangkan ke-dia-an kita adalah aku yang dulu yang telah mengalami serpihan hukum-hukum yang menampak kepada kita. Sungguh, alangkah ruginya orang-orang yang tidak bercengkrama dengan ke-dia-an nya.

Aku yang berfilsafat adalah aku yang bebas. Kebebasan itu adalah paham hukum ideal yang mampu diraih bila aku lepas dari kecemasan aksidental ( cemasnya aku karena akan baru dan lupa juga senjang dengan aku yang dulu). Maka Aku yang berfilsafat akan berkesempatan untuk menjadi paham dengan segala sesuatunya.

Read More

Selasa, 20 Juni 2017

Filsafat Agama : Tentang Cermin

Tentang Cermin
Oleh Ma’ruf Nurhalis (filsafat agama)



Mengisi tema puasa dan transformasi sosial pada perlombaan esai gema dan semarak ramadhan, DEMA fakultas Ushuluddin,filsafat dan politik UIN Alauddin.

Silahkan di nikmati.

Cermin berbentuk datar di lemari atau di mana saja, sangat membantu kita agar percaya diri. Aku sendiri selalu berada dihadapannya saat aku ingin melihat diriku. Selepas membersihkan diri, aku bersolek, ria, bersisir manja-manja dan merapikan pakaian di hadapannya.
Barangkali, tidak ada yang salah dengan rutinitas bercermin itu. Tapi sesungguhnya, bercermin itu sebenarnya aneh. Bila di sadari, saat bercermin kita sedang melepaskan dan melupakan ke akua kita sebagai diri yang asli. Dan terpaku kapada aku yang berada di balik cermin itu yang hanyalah pantulan tubuhku karena terbentuk oleh dukungan cahaya?, biasa di sebut ilusi optik.

Perhatikanlah dan cobalah untuk berdiri di hadapan cermin datar yang di sinari cahaya secukupnya. Cobalah tatap dirimu di dalam cermin itu. jika di tatap lama-lama, maka mungkin kau akan jatuh cinta dengan dia yang berada di balik cermin itu. tetapi kau bukan sedang mencintai dirimu tetapi kau mencintai bentuk diri di balik cermin itu. barangkali, suasana bercermin seperti itulah yang di rasakan Narsius(kisah Yunani kuno) sehingga ia jatuh cinta dengan wajahnya sendiri.

Cobalah sejenak untuk berpikir, sempatkanlah untuk mengingat, pernahkan kau merasakan jatuh cinta. Bila dirimu telah melewati masa puber. Besar nian Jatuh cinta itu sudah di rasakan. Namun, seperti keadaan bercermin, kita hanya pandai jatuh cinta dengan apa yang berada di hadapan kita. Seperti seorang lelaki yang sibuk mengejar cinta seorang perempuan di hadapannya, dan seorang perempuan yang sibuk mengejar kecantikan untuk di puji orang di hadapannya, juga manusia umumnya menyibukkan diri untuk segala sesuatu di luar dirinya. Kita memang hanya pandai mencintai apa yang berada di luar diri kita.

Bercermin adalah proses di mana kita sedang mengurus kepercayaan diri kita dengan ilusi agar mendapat pujian. Kita selalu mempercantik diri di depan cermin bukan untuk diri kita sendiri tetapi untuk kepentingan orang lain. cermin itu akan membuat diri kita menjadi palsu. Karena saat bercermin kita hanya sedang melihat pantulan diri kita yang asli. Dan orang hanya melihat tubuh kita bukan apa yang ada di balik tubuh itu.

Sekarang sudikah kita untuk melepaskan diri dari rutinitas menghadap di cermin. Dan bisakah kita menjadikan diri kita sendiri sebagai cermin. Sebutlah cermin itu adalah akal dan intuisi kita. Proses bercermin yang di antarai oleh pertanyaan, “siapakah aku?, dari mana kah aku?, dan kemanakah gerangan aku?”, lalu biarkan anda menjawabnya sendiri. Itulah bercermin tanpa pantulan dari cahaya Indrawi. Tanpa terlena oleh ilusi optik.
Mumpung, kita masih berada di bulan Ramadhan, saat di mana kita sedang rajin untuk berpuasa (menahan) dari kebutuhan nabati dan hewaniyah. Cobalah juga untuk menahan diri agar tidak menjadi subjek palsu yang selalu saja mengandalkan cermin untuk menjadi manusia.

Puasa adalah proses di mana manusia mestinya mengadakan dialog, juga dialektika antara ke-aku-an dan ke-dia-an lewat lontaran pertanyaan esensial. Puasa adalah cermin dalam bentuk lebih universal. Kita berdiri di hadapan cermin tanpa cahaya, kecuali cahaya intelek. Karena cermin itu tidak berbentuk sebagai mana cermin di rumahmu. Tapi cermin itu berbentuk pertanyaan-pertanyaan yang melatih kita untuk menjadi subjek yang sadar diri.

Marilah menjalani sisa puasa di bulan Ramadhan dengan selalu menahan ke-aku-an kita pada jalan yang lurus. Juga, lepaskanlah cermin aksidental yang membuat-mu sibuk untuk menjadi orang lain. rajin-rajinlah untuk bercermin kepada diri sendiri. Cobalah untuk menjadi subjek yang sadar diri, yang sibuk pada hal-hal yang esensial.

Barangkali dengan maraknya subjek yang sadar diri, kita tidak hidup lagi di luar rumah dengan mengandalkan cermin di kamar atau di lemari. Tapi mengandalkan kebebasan kita agar melihat dunia ini lebih luas tanpa bantuan cermin. Karena perubahan sosial yang ideal di awali dari membersihkan diri dari segala bentuk kepalsuan, marilah mengawalinya dengan membersihkan diri di bulan puasa ini.
Read More

Sabtu, 17 Juni 2017

Jangan jadi hewan kampungan

 


Karena pohon tegak bila akar tidak mati. jadi sistem tidak jalan bila sumbat. kedamaian itu air asi. tapi sistem lancar kalau ada jabat.
Boleh teriak orang karena kuasa. tapi orang berkuasa pandai puasa. hati dan akal harus punya jasa. jangan sampai kebodohan  buat diri-diri merana.
Butuhlah orang bertindak. tapi hindarkan kepala bertanduk.
Tindak dengan cita-cita tinggi. bukan sesaat dan cari lubang laksana tikus kelaparan. bukan mental kecoa. Serangga yang mudah terbalik urung bangkit. bukan pula Belalang Sembah. Kerjanya hanya Menyembah. Bukan pula Anjing. Jadi kenal tuan kalau ajak sana-sini. bukan pula kontruksi manusia. Karena pikiran bisa lampaui Aristoteles. intinya jangan Jadi hewan kampungan.
Read More

Jumat, 16 Juni 2017

Secarik Refleksi :Agama dan Larangan

Selamat datang pembaca kami yang budiman, selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan. Tulisan saya kali ini akan mengajak pembaca berdikusi tentang posisi alasan kenapa larangan Tuhan musti ada. Ini hanya refleksi, benar dan kurang benarnya mari benahi.
selamat ber-refleksi!
dosa haram pahala
Sumber: guidedislam.com
Haram bukan soal larangan tuhan, tapi itu tuntutan sosial!

Saya mulai bertanya tanya, kenapa dalam islam begitu banyak larangan dalam perbuatan. Larangan yang tampaknya membatasi gerak dan kebebasan ini nyatanya tidaklah benar benar membebani umat yang menjalani. Justru sebaliknya para penganut ajaran islam justru enjoy saja dalam menjalani larangan tersebut. bahkan kalau mau melihat sisi lain dari larangan ini, maka keteraturan dan kedamaian sera control terhadap hidup akan berjalan mudah.

Sesuatu yang Nampak seolah olah membatasi perilaku manusia ini tidaklah berat dijalani. Mengapa? karena yang di larang dalam islam pun sebenarnya adalah segala sesuatu yang pada dasarnya berhubungan dengan si pelaku perbuatan tersebut. tidak ada hubunganya dengan Tuhan, kecuali sesuatu yang memang menjadi keharusan buat-Nya yaitu ibadah.

Ibadah juga sebenarnya hanya merupakan perintah kecil dari Tuhan yang musti dilaksanakan. Sebagai bentuk balas budi manusia kepada tuhan oleh karena segala pemberiannya. Balas budi ini tentu akan sangat tidak enak dilakukan kalau diperintahkan oleh seseorang yang pernah berbuat baik kepada kita. Terlebih dalam hal ini yang memberi manusia kehidupan, Tuhan. Ini juga hanya berlaku bagi manusia yang mengaku hamba Tuhan, sebagai hamba maka perintah Tuhan (kewajiban) merupakan sesuatu yang inheren dalam diri manusia.

Kira kira begini tipologinya. Saya memiliki seorang teman. Dia selalu saja ada untuk saya, sebut saja misalnya saya numpang di rumahnya, tinggal dengan keluarganya karena saya melarat. Segala kebutuhan hidup di tanggung, dan kalau si teman butuh bantuan saya selalu berusaha untuk membantu. Di sana ada relasi timbal balik antara saya dan teman saya tersebut. relasi ini diikat oleh karena saling membutuhkan dan saling hutang budi.

Namun yang sebenarnya paling banyak berhutang budi di antara kami adalah saya, karena kelangsungan hidup saya bergantung secara fisik kepada dia. Olehnya secara inheren saya akan berfikir bahwa kalau bukan karena dia, saya sudah mati mungkin saja. Maka dari itu, apapun permintaan teman saya tersebut saya selalu memunuhi sebisa mungkin. Akan ada perasaan tidak enak kalau saya menolak permintaanya.

Nb: contoh ini bisa saja salah kamprah, tapi secara intuitif, kira kira begitulah yang terjadi kalau kita dalam posisi yang sama.

Dalam konteks tuhan, sifat kebergantungan seperti ini berlaku juga. Bahkan dalam konteks yang lebih besar. Bagi yang mengaku hamba maka permintaan tuhan tersebut musti dijalankan, apapun alasanya. Tapi lagi lagi dalam konteks itu, tentu tidak dapat disangkal, dan musti dilaksanakan.

Namun, apa yang sebenarnya terjadi adalah segala larangan tersebut selalu kembali kepada manusia itu sendiri. Tidak mungkin suatu larangan ada kalau tidak ada hubunganya dengan diri sendiri juga orang lain. Dan yang terpenting pula menjadi indikator adalah faktor manfaat dan celakanya bagi si manusia itu sendiri. Atau dalam bahasa agamanya, kalau lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya, sebaiknya tinggalkan perbuatan tersebut. dan pada kutub yang paling ekstrim, haram hukumnya perbuatan itu.

Dalam koridor tersebutlah, takaran larangan perbuatan manusia dibatasi olen orang lain, seperti yang pernah dikatakan oleh James Smith yang kira kira bunyinya “kebebasan manusia dibatasi oleh orang lain”. Faktor kenyamanan disini sangat diperhatikan. Kenyamanan untuk diri sendiri terlebih untuk orang lain. Terlebih sebagai mahluk sosial, kita tidak mungkin bisa ada tanpa orang lain, karena prasyarat mengada bagi manusia adalah adanya manusia yang lain.

Misalnya, kenapa mencuri itu haram, karena itu merugikan orang lain. Terlebih lagi dapat merugikan diri sendiri, karena berpotensi digebukin satu kampung. Dalam sejarah mencuri, terkisahkan telah banyak pelaku pencurian yang babak belur diamuk massa. Ini tentu selain merugikan orang lain juga merugikan diri sendiri. Kecuali si pencuri ikhlas dikroyok setelah mencuri dan merasa kroyokan itu tidak merugikan dan membahayakan diri sendiri, mungkin mencuri akan menjadi diperbolehkan.

Atau kalau saja mencuri itu malah saling mengungtukan, maka mungkin saja akan menjadi halal. Akan tetapi dalam konteks ini nampaklah bukan saling menguntungkan, tapi merugikan. Okelah kalau si pencuri di untungkan, tapi hanya sesaat saja. Kalaupun juga di untungkan toh ujung-ujungnya merugi juga. Kecuali ya pemcuri uang rakyat, kalo itung itung mudaratnya, mungkin paling dikit diantara jenis mencuri yang lain. Bahkan kalo di hukumpun bisa dapat fasilitas, ah enak bener gan..

NB: kalau anda ingin mencuri, maka berdasilah. Hanya pencuri berdasilah yang bisa merasakan nikmatnya mencuri. Ini bukan hoax. Cobalah!

Demikian pentingya memahami bahwa salah satu konteks penyebab pengharaman adalah berkaitan erat dengan masalah relasi sosial. Masalah dosa lebih banyak disebabkan karena ketidakteraturan hubungan sosial, bukan masalah Tuhan. Tuhan dalam hal apapun tidak pernah bergantung pada manusia. bahkan tidak sholatpun, nggak ngefek buat Tuhan.

Olehnya bisa dipahami itu bukanlah dosa. Kok bisa? Tuhan tidak ngefek dengan ibadah manusia, tindakan manusia juga toh kembali kepada manusia. jadi tidak ada hubungannya dengan Tuhan. Tindakan manusia ya manusia sendiri yang tanggung. Manusia bukan tidak tau resiko, tapi mereka nyaman dengan yang dihadapi. Kalau tindakan manusia bergantung pada dirinya dan ia rela, maka itu bukan dosa.

Toh, Tuhan mau apa dengan dosa manusia. kan nggak ada. Kalo dari awal tuhan tidak butuh ibadah manusia, terus tuhan mau hukum manusia karena ibadah. Kan nggak masuk akal. Yah sudahlah, tidak layak kiranya menyoal hubungan individual dengan Tuhan, biarlah ia mengalir dalam senyap.

Satu hal yang menurut saya perlu kita kaji kembali bahwa segala larangan dalam islam tidak pernah terlepas dari dua kutub yang berusaha dilindungi. yaitu relasi sosial yang berlangsung antara sesame manusia. larangan dan pengharaman tidak luput dari dua kutub tersebut. hanya dengan control dalam dua hal tersebut sajalah hidup dapat berjalan dengan damai.
Read More

Kamis, 15 Juni 2017

Refleksi Ramadhan: bulan puasa dan fenomenanya

Ramadhan dan Islam Musiman
Tulisan ini merupakan ramuan yang penulis coba sarikan dari beberapa pandangan kritis Wahyuddin Halim, Ph. D terhadap bulan Ramadhan ketika mengisi mata kuliah di Kelas Filsafat, UIN Alauddin Makassar. Semoga berkenan dan bermanfaat!
Sumber: prayertimesdubai.net


Bulan Ramadhan atau bulan puasa, begitu sebagian orang menyebutnya, merupakan bulan penuh berkah bagi ummat islam. Di bulan ini, Allah akan melipat gandakan pahala bagi mereka yang meninggkatkan ibadah serta amalan amalnya. Doktrin keagamaan ini kemudian menjadi motivasi dasar bagi kebanyakan ummat islam dalam melaksanakan ibadah. Maka tidak heran, tempat ibadah dan keramahan berduyun-duyun pada bulan ini.

Tidak sampai di situ, momentum ramadhan dimanfaatkan juga sebagai special moment bagi penjual makanan, terutama penjual takjil buka puasa, penjual songkok, mukena dan baju lebaran. Seakan taken for granted, tiba tiba pinggiran jalan menjadi pasar dadakan, di titik titik tertentu menjadi pusat berkumpul beberapa penjual dan menjajakan dagangan. Tentu ini adalah pemandangan langka yang luput dari perhatian sebagai penghayatan akan transformasi relasi sosial, kecuali bagi segelintir orang saja. Mengapa? Itula euphoria puasa

Bukan hanya di jalanan, tempat ibadah menjadi ladang tersendiri bagi para da’i. Da’I kondang maupun dadakan kebanjiran orderan ceramah. Sampai sampai kesulitan mengatur jadwal ceramah, mulai dari ceramah ba’da shalat tarwih sampai ba’da subuh. Fenomenan ini oleh sebagian orang menyebutnya sebagai berkah bulan ramadhan, sebagian lagi menyebutnya sebagai, lahan mata pencaharian, seperti yang pernah saya lakukan beberapa tahun lalu. Kalimat yang terakhir, please Jangan ditiru.

Fenomenan-fenomena keagaaman inilah yang menjangkiti islam hari ini. Statistik ibadah umat islam pada bulan ini mencapai angka fantastik dalam grafik intensitas ibadah dan amali. Ini tentu merupakan sebuah pencapaian yang baik, terlebih kalau mampu mempertahankan sampai bulan-bulan selanjutnya. Bukan hanya menjadi muslim pada bulan suci ramadhan saja, tapi menjadikannya sebagai ibadah yang bersifat kontinue hingga bulan ramadhan selanjutnya.

Ah.. kadang saya sendiri menyebutnya fenomena ini sebagai islam musiman, bagaimana tidak euforia ibadah hanya meningkat drastis di bulan ramadhan saja. Sementara dibulan bulan lain, masjid semacam kehilangan daya tarik. Pesonanya hilang bersama selimut Ramadhan yang tenggelam di senja Syawal. Kalau ada yang masih membawa nyalanya hingga ke mata, maka dibawanya Ramadhan pada hati yang masih membara. Dan kalau ada satu shaff penuh dalam shalat berjamaah itu Alhamdulillah. lah kalau tidak, ya itulah islam musiman.

Menurut Wahyuddin Halim, seperti dijelaskan dalam hadis Nabi yang di riwayatkan oleh muttafaqqun ‘Alaih, bahwa Tuhan lebih menyukai ibadah yang terus menerus meskipun sedikit, bukan sebaliknya. Ramahdan bukanlah bulan menabung, tuturnya, ibadah seharusnya sama saja dengan hari hari lain. ibadah yang kontinue pada bulan sebelumnya seharunya dapat lebih di tingkatkan pada bulan ramahdan, dan yang lebih penting lagi menurutnya, ibadah pada bulan ramadhan dapat di jalan secara kontinue dan istiqomah pada bulan-bulan selanjutnya.

 Di sisi lain, seperti halnya penceramah kondang tidak benar-benar menambah pengetahuan baru dalam isi ceramah-ceramahnya. Isi ceramah yang berbobot tidak benar benar diimbangi dengan lawakan. Sehingga kadang saya sendiri berfikir bahwa, penceramah tidak jauh beda dengan stand up comedi. Dalam kacamata wahyuddin halim, ceramah dibeberapa tempat tidak benar benar menambah bobot ibadah. Jamaah hanya di buat ketawa-ketiwi, lalu lupa apa yang disampikan penceramah.

Pernah sesekali dalam ceramah, ia menyanyakan kepada jamaah bisakah jamaah mengulang inti ceramah dari hari pertama sampai malam ke sepuluh?. Perntanyaan ini, bagi saya sendiri, bukanlah sebuah tantangan apalagi olok-olokan terhadap jamaah. Tapi merupakan refleksi penting dan sentilan bagi tiap tiap pribadi yang merasa diri penting melakukan perubahan dan dalam jangkauan yang lebih luas, sebagai agen transformasi sosial. Ini merupakan tanggung jawab bersama dalam saling mengingatkan.

Masih dalam kacamata Wahyuddin Halim, bulan ramadhan oleh sebagain muda-mudi juga dijadikan sebagai bulan romantis. Pertemuan atas nama agama dibenarkan dengan berbagai alasan. Mulai dari saling mengingatkan waktu sahur, ucapan selamat berbuka puasa, sampai saling membonceng pulang pergi shalat tarwih.

“Ramadhan itu itu di hati, bukan lingkungan” kata beliau di akhir kelas. Yang membuat sesuatu itu terasa beda adalah karena kita sendiri yang membuat perpedaan. Kita menambahkan atribut dan keramaian dalam situasi tertentu. Demikian dengan bulan ramadhan, ramadhan di Indonesia memiliki atmosfer yang begitu hebat. Kesemuanya itu adalah karena kita yang membuatnya, dengan meningkatnya titik-titik pasar dadakan, cepatnya lantunan ayat suci di corong masjid, sampai membludaknya jamaah dimasjid dan lainya. Namun jangan lupa bahwa ramadhan itu hakikatnya di hati, hubungan vertikal Ilahiah harunsya menjadi inti, bukan persoalan aksidental lainya.

Lantas bagaimana bulan puasa atau Ramadhan dapat menjadi sarana tranformasi sosial? Oleh karena yang terpenting dalam ramadhan adalah kontinuitas ibadah, maka penting kiranya membenahi niat dalam menjalani ibadah puasa. Puasa bukanya hanya berarti menahan lapar dan hawa nafsu, lebih dari itu, mengutip tulisan Dr. Sabara Nuruddin di facebook, puasa dijadikan sebagai media untuk mengendalikan kecenderungan kecenderungan ragawiyah yang berbetik dalam hati dan fikiran, termasuk sebagai peroses membunuh bengkalai hewaniah dalam jiwa.

Jika kita mampu mencapai level kedua ini, insyaallah, efek puasa bukan hanya akan di rasakan bagi diri sendiri, namun dalam penerapan dalam kehidupan akan lebih mantap dan baik. Kemampuan ini, menurut kami, akan mentransformasi diri serta tindakan sekaligus. Bukan cermin ibadah akan di temukan dalam relasi sosial. Jika ibadahnya baik, maka kecenderungan tindakannya akan musti baik. Atau dengan kata laina, jika hubungan dengan  Tuhan baik, maka bisa di pastikan hubungan dengan manusia akan baik pula.

Demikian pula dijelaskan dalam surah Al-Ma’un, bahwa termasuk mendustakan agama mereka yang shalat, tetapi tidak memiliki kepekaan sosial. Sehingga jelaslah bahwa jenis epistemologi dalam islam bersifat relasional. Antara yang satu dan lainya saling berkaitan dan melengkapi. Sehingga dapatlah di mengerti mengapa ibadah yang satu dan yang lainya memiliki effect domino dalam relasi sosial.

Semoga bermanfaat dan selamat menjalankan ibadah puasa dengan hikmat.
Read More

Senin, 12 Juni 2017

Cinta yang hakikat

CINTA YANG HAKIKAT


Kali ini saya bisa merasakannya. Sejak kemarin rasa itu hanya bisa samar-samar saja terpahami. Laksana kelilawar yang menerka cahaya mentari.  Rasa itu adalah soal cinta.

Cinta itu rupanya dapat membunuh, tapi tiada cinta itu mampu berakhir mati. Cintapun walau akan berakhir terbunuh pastilah akan tetap hidup. Karena cinta rupanya tak berjasad, tapi malangnya di rasakan oleh yang berjasad dan tiadalah jasad itu mampu mengerti cinta. Kalaupun akan mahfum, tiadalah cinta itu membawa bahagia. Hanyalah bila melepaskan cinta dari jasad,  datanglah cinta itu membawa berkah.

Namun, banyak malang kian nasib pemuda-pemudi yang merasakan cinta. Mereka jadikan jasad lawan jenis sebagai peng-objek-an cinta. Cinta itu di jadikannya sebagai yang bertubuh. Kalapun bukan tubuh perempuan adalah tubuh lelaki. Cinta itu jadilah sejajar dengan kecantikan ataulah ketampanan. Dan tiada lah timbul cinta tanpa elok rupa tubuh. Padahal banyak orang bijak sudah berpesan soal cinta “cinta kepada tubuh adalah eros”. Barang siapa yang mencinta karena tubuh, siaplah ia menderita karena tak mampu untuk mengendalikan cinta yang tak punya tubuh itu.

Jikalau saja cinta itu bertubuh dan berhenti di situ saja, maka tiadalah cinta itu dapat mendatangkan berkah dan tiadalah para pecinta itu menjadi orang yang besar. Jikalau orang mengerti cinta dan bersahabatlah ia dengan cinta, maka orang itu jadilah tahu bahwa cinta itu adalah universal. Bila saja orang melepas cinta dari keinginan bersetubuh maka lepaslah cinta itu untuk seluruh umat manusia. Sebagai mana Tuhan mencintai hambanya, begitu juga cinta seorang ibu kepada anaknya. Tiadalah orang juga mampu mencintai kosmos jika ia sempitkan cinta pada keinginan diri saja.

Namun rupanya untuk mencintai sebagaimana Tuhan mencintai, amatlah susah persoalan. Tiadalah Tuhan itu berkawin, apalagi beranak. Namun, Tuhan menjadikan kita untuk berpasang-pasangan dan dapat pula beranak-pinak. Dan untuk menjalankan keterlemparan itu. akan dapat kita rasakan benturan yang terjadi. Namun tiadalah Tuhan menciptakan sesuatu yang tak mengandung hikmah.

Banyak orang bijak bestari dari timur berkata “ alam ini terbagi menjadi dua, alam makrokosmos ialah alam nan luas ini dan alam mikrokosmos ialah alam diri manusia.”. barangkali jika berturut Universal. Cinta itu bisa menjadi makrokosmos, bisa pula menjadi mikrokosmos. Hingga dalam kitab persetubuhan Kamasutra menganggap bahwa siapa yang ikhlas mencintai pasangannya akan cintalah ia kepada seluruh alam semesta.

Bagaimana maksud perkataan itu?, boleh lah kita jelaskan seperti ini.

Telah di sunnahkan sabda Semesta. kita harus mengalami persetubuhan dalam ikatan rumah tangga agar dapatlah kita membedakan halal dan haram. Untuk mengalami persetubuhan, orang bisa saja melakukan tanpa cinta. Tetapi ketidakpuasan menyiksakan lubuk hatinya maka tiadalah nikmat persetubuhan itu datang tanpa cinta. Yang datang hanyalah keresahan mental dan siksaan fisik. Jadilah perzinahan itu membawa sakit jiwa.

Orang butuh cinta, orang mesti paham cinta sebelum ia mengalami persetubuhan. Tiadalah para pemuda dan pemudi itu melakukan seks di luar yang halal kecuali bentuk perzinahan yang membawa kesusahan dalam hidup.

Maka dari itu tiadalah cinta itu ada pada pandangan pertama. Karena sungguh cinta itu tak patutlah hanya menjadi pandangan. Jika hanya menjadi pandangan, kalau buta mata orang maka hilanglah sudah cinta itu. cinta yang patut adalah cinta yang bungkam. Maksudnya, cinta itu adalah pembawaan diri. Cinta adalah pemasukan kedalam diri. Tiadalah orang mampu mencintai sebelum ia mencintai dirinya sendiri. Tidak timbullah cinta tanpa cinta kepada diri sendiri. Kalaupun timbul amat susah membedakannya dengan hasrat atau bisalah di sebut sebagai nafsu. Sungguh jikalau seseorang belum bisa mencintai dirinya sendiri amat dekatlah ia dengan setan. Amat mudahlah ia terbawa bisikan setan. Dan setan yang paling akbar adalah nasib. Orang yang tidak mencintai dirinya akan mudah dikendalikan oleh nasib.

Lalu bagaimanakah orang yang telah cinta kepada dirinya?.

Dialah orang yang mencintai tetangganya. Bilalah ia di tampar orang, tiada ia akan membalas kecuali hanya menawarkan pipi yang lainnya. Tiadalah ia hanya menyebut nama seorang, kecuali ia hanya menyebut Tuhan. Tiadalah ia mampu membenci, karena sesungguhnya bilalah ia menjadi orang yang benci, berarti ia juga akan benci Tuhan. Maka jadilah orang itu sebagai pecinta. Dan tiadalah orang sembarang mendapat gelar pecinta. Karena ia hanya mampu menjadi pecinta, bila ia telah mencintai dirinya. Jikalau orang telah mencintai dirinya, tiadalah dia akan merasakan benci lagi. Jika ia tiada membenci dirinya, maka hanyalah cinta yang ada pada dirinya.

Namun tidak banyak orang mampu menjadi pecinta. Banyak pula orang mencinta hanya saja menjadi pula pembenci. Jika diambil orang pacarnya, jadi lah ia menjadi sengsara. Dan kumatlah bencinya kepada orang yang pernah di cintainya dengan tulus. Jika saja orang masih mengandaikan cinta sebatas pacar-memacari. Tiada orang bisa mencintai dirinya sendiri. Tiada orang mampu bahagia. Padahal bahagia itu bisalah tercapai jika tercapai cintanya. Orang bisa bahagia jika ia pula mampu meninggikan cita-cita serta kehormatannya.

Demikianlah yang hakikat dari kulit cinta
Read More

Minggu, 11 Juni 2017

Filsafat; Demokrasi dan Ubermansch


Sumber: static.comicvine.com

Kan Kugugat Demokrasi Demi Engkau Manusia Unggul
Nietzshe: “Kebijaksanaan adalah sebentuk kejahatan di atas dunia.”
Demokrasi adalah penyimpangan. Demokrasi adalah izin yang diberikan kepada setiap bagian dari organisme untuk melakukan apa saja yang disukainya. Demokrasi adalah pemujaan pada “orang kebanyakan” dan kebecinian kepada “Manusia Unggul”. Demorasi dengan demikian, berarti keridakmungkinan lahirnya Manusia Unggul dan bangsa-bangsa besar. “masyarakat demokratis adalah masyarakat tanpa karakter; yang menjadi figur dandan bukan model manusia superior, melainkan manusia mayoritas.

Feminisme adalah akibat langsung dari demokrasi. Emansipasi atau kesamaan hak antara laki-laki dan perempuan adalah tidak mungkin karena perang antara keduanya tidak akan pernah ada akhirnya. Bersama feminisme datanglah sosialisme dan anarkisme. Semua itu adalah sampah demorasi. Kalau kekuasan politik dikatakan adil, mengapa kekuasaan ekonomi berat sebelah dan timpang ? mengapa mesti ada banyak pemimpin dimana-mana ? “manusia adalah makhluk yang tidak sama. Kita tidak memiliki apapun yang bisa disebut sama.” Alam benci kepada kesamaan. Alam menyukai perbedaan-perbedaan, kelas-kelas, dan spesies-spesies.

Sosialisme adalah antibiologis: proses evolusi melibatkan penggunaan spesies-spesies, kelas-kelas, dan individu-individu yang imperior oleh yang superior; dan semua kehidupan pada dasarnya tergantung pada kehidupan yang lain; ikan besar akan memakan ikan keil, tetapi begitulah kehidupan. Sosialime bohong dan iri hati: “mereka menginginkan sesuatu yang kita miliki. “mereka mengatur dan mengontrol kita, lalu apa yang kita miliki dirampas dan dianggap “milik bersama.”

Dalam banyak kasus, budak bisa lebih agung dari pada tuannya , yakni para borjuis. Adalah tanda dari inferioritas kebudayaan abad kesembilan belas bahwa manusia-uang (pengusaha) menjadi sasaran pemujaan dan kecemburuan. Akan tetapi para pengusaha tersebut tidak lain adalah budak juga, boneka yang bekerja seara rutin, korban kesibukan; mereka tidak punya gagasan baru, berpikir adalah sesuatu yang tabu bagi mereka. itulah sebabnya, mengapa pencarian mereka terus-meneruh kepada “kebahagian,” untuk rumah-rumah besar yang tidak pernah menjadi “tempat tinggal” mereka, untuk kemewahan mereka yang kasar tanpa cita rasa, untuk galeri-galeri lukisan mereka “yang orisinal,” untuk hiburan-hiburan sensual mereka yang tumpul—semuanya itu tidak pernah menyegarkan dan merangsang jiwa mereka.

Persoalan politik yang sebenarnya adalah bagaimana menghindari pengusaha menjadi pemimpin, menjadi orang yang mengatur, pengusaha mempunyai pandangan yang pendek dan pikiran yang sempit. Ia tidak seperti mereka para aristorat yang dilatih untuk menjadi negarawan, yang berwawasan luas dan pemikiran yang dalam; merekalah yang sebetulnya mempunyai hak untuk mengatur, untuk menjadi penguasa.

Aristokrasi adalah pemerintahan yang ideal. Siapa yang bisa menolaknya ? “di setiap bangsa... selalu ada yang paling baik, paling bijaksana, paling unggul; lalu kita mengatakannya penguasa; semua tindakannya benar belaka... melalui seni apakah dia kita temukan? Bukankah surga sendiri tidak mengajarkan kesenian? Melalui kebutuhan kita akan manusia terbaik? Apakah yang terbaik, hebat, dan perkasa!” akan tetapi, siapakah yang terbaik? Apakah yang terbaik hanya tampak dan mucnul dari dari keluarga-keluarga tertentu, dan oleh sebab itu kita harus memiliki aristokrasi yang turun-temurun?

Rumus yang terbaik adalah: “karir hanya terbuka bagi orang yang berbakat,” dimanapun mereka dilahirkan, dan genius memiliki arah dilahirkannya sendiri di tempat-tempat terpencil. Biarkan kita oleh semua yang terbaik. Aristokrasi hanya baik kalau sekumpulan manusia-manusia berkualitas yang haknya untuk berkuasa terletak bukan karena kelahiran, melainkan karena kemampuan.

Perlu diingat! Manusia Unggul tidak dilahirkan oleh alam. Proses biologis sering tidak adil terhadap individu-individu luar biasa; alam sangat kejam pada produknya yang paling baik; alam lebih mencintai dan melindungi manusia yang rata-rata dan sedang-sedang saja; di dalam alam terdapat penyimpangan yang terus-menerus pada “jenis-jenis” manusia. Oleh sebab itu, manusia unggul dapat hidup dan bertahan hanya melalui seleksi manusia (human selection), melalui perbaikan kecerdasan (eugenic foresight) dan pendidikan yang meningkatkan derajat dan keagungan individu-individu.

Calon Manusia Unggul yang baru lahir membutuhkan peningkatan kecerdasan. “intelek melulu tidak membuat manusia jadi mulia; sebaliknya, selalu perlu sesuatu yang memuliakan intelek... lalu, apa yang dibutuhkan? Darah... “setelah itu, diperlukan pendidikan yang keras, dimana kesempurnaan merupakan materi utamanya, dan “tibuh dilatih untuk menderita dalam keheningan yang diam, sedangkan kehendak dilatih untuk memerintah dan mematuhi perintah.” Pendidikan untuk manusia-manusia unggul haruslah sedemikian keras, sehingga mereka mampu membuat tragedi menjadi komedi; “ia yang berjalan menyususri gunung-gunung tertinggi akan menertawakan semua tragedi.”


Energi, intelek, dan kehormatan atau kebanggan diri –ini semua membuat Manusia Unggul. Namun kesemuanya itu harus selaras:gairah-gairah akan menjadi kekuatan, hanya jika mereka dipilih dan dipadukan oleh suatu tujuan besar, yang mampu membentuk berbagai keinginan yang masih kabur ke dalam kekuatan satu kepribadian. “kesengsaraan bagi para pemikir ibarat tanah subur bagi tanaman.” Siapa yang segala tingkah lakunya hanya mengikuti impuls-impuls? Mereka adalah manusia-manusia dungu dan lemah, yang kurang memiliki kekuatan untuk hidup dan bertahan; mereka tidak cukup kuat untuk mengatakan Tidak; mereka adalah pecundang, manusia dekadensi. Hal yang terbaik adalah mendisiplinkan diri, berbuat keras terhadap diri sendiri. ‘manusia yang tidak ingin jadi komponen massa, berhentilah memanjakan diri sendiri; kita harus mempunyai  tujuan dalam menghendaki apa saja, kecuali berkhianat pada teman sendiri –itulah tanda kemulian , rumus akhir Manusia Unggul.
Read More