Senin, 29 Mei 2017

Puisi filsafat : Filsuf


Apakah saya filsuf?.
Bukan. aku hanya orang yang di sebut filsuf.
Semua orang adalah filsuf.
Semua orang berkata.
Filsuf itu adalah kata!.
Orang itu juga kata!.
Bukankah filsafat itu adalah kata-kata.
Yang dikatakan filsuf.
Dan orang yang di katakan filsuf belajar membaca kata-kata.
Pernahkah kata-kata itu lepas dari "K.A.T.A".
Bukankah yang membaca filsafat mendikte.
"K", "A", "T","A".
Sekali-kali Tidak!. Filsuf melihat "Kata"sebagai kata.
Read More

Minggu, 28 Mei 2017

Secarik refleksi: Aktor Islam Indonesia



Tulisan singkat ini merupakan gambaran sederhana yang penulis amati dari beberapa fenomena keislaman yang ada di Indonesia. Bukan justifikasi tapi refleksi. olehnya sangat berpotensi mengalami kerapuhan argumentasi. 
Selamat menikmati
islam
Sumber gambar: islaminindonesia.files.wordpress.com
Ngawur Transendental

Suatu ketika soekarno yang sedang berkumpul bersama rekan-rekannya yang kelak menjadi founding father (baca;bapak pendiri) Negara ini, tia-tiba didatangi oleh Tan Malaka. Kemudian Ia (Tan Malaka) berujar.. wahai sahabatku saya datang kemari karena saya tidak tertarik dengan model kemerdekaan yang kalian perjuangkan, karena hanya akan menguntungkan kelompok tertentu.. demikian lah sepenggal kalimat yang saya dapati saat berkunjung ke suatu toko buku, kalimat yang sederhana namun membuatku tak habis pikir kenapa Ia (Tan Malaka) berkata demikian..
Tapi entah dengan alasan apa, saya pikir prediksi Tan Malaka benar adanya. kita lihat sekeliling kita hari ini begitu banyak ketimpangan yang terjadi yang pada dasarnya para pejuang kemerdekaan kita tak menghendaki hal demikian ini. Di saat keringat dan darah mereka kemudian hanya dinikmati segelintir orang-orang tertentu di negeri ini. Misal, keadilan hanya milik mereka yang berkepemilikan dan mayoritas. Kemana komitmen kebangsaan kita di butir kelima pancasila? Saya pikir hal ini telah raib..
Kita boleh berbangga bahwa Negara kita dihuni oleh sebuah agama yang penganutnya terbesar di dunia yang dikandung pertiwi dengan suami yang tak jelas. Namun saya tak bisa menutup mata atas serangkaian konflik yang terjadi di nusantara ini akibat agama. Saya luruskan bukan agamanya tetapi para pemuluk agamanya.. dari konflik yang berdarah sampai membuat tertawa.
Lantas apa yang perlu kita lakukan sebagai upaya atau langkah mengobati penyaki yang menjangkiti Negara ini, hari demi hari penyakitnya semakin parah dan yang saya takutnya jika suatu saat penyakitnya telah stadium empat (akut), tentu anda maupun saya sendiri tak menginginkan hal demikian terjadi. Olehnya itu hal yang hendak kita lakukan ialah yang pertama, kita harus ingat dimana kaki kita pajakkan; artinya kita beiri diatas sebuah kemajemukan yang harus dicamkan baik-baik. Yang kedua, karena kita berada dalam kondisi majemuk hendaknya kita bersikap plural dan inklusif.
Perlu kita ingat! Negara kita plural; banyak subtansi yang menyusunnya. Yang kemudian yang merekatkan kita ialah asas ke-bhinekaan tunggal ika. Jadi tak sepantasnya kita berujar Indonesia itu jawa karena masih ada bagian-bagian lain yang tak kalah berharganya di negeri ini selain jawa, begitupula hendaknya kita jangan menganggap Indonesia ya pasti Islam, sekalipun Islam yang mayoritas toh dalam perjuangan kemerdekaan Negara ini. Ada dari keyakinan yang lain turut ambil peran dalam sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa kita.
Menyoal keyakinan (baca;agama) hari ini, kerap kali keyakinan itu diperalat sebagai sebuah legitimasi tindakan yang saya pikir hal demikian hanya akan mencederai keyakinan itu sendiri. Olehnya itu sewajarnya kita bersikap plural—inklusif. Sengaja kata plural dan inklusif saya sandingkan agar kiranya tidak terjadi patahan epistemik. Yang dimaksudkan plural—inklusif; meyakini kebenaran milik kita adalah benar namun tak menjadikan hal demikian untuk meyalahkan keyakinan selain apa yang kita yakini. Misal, saya seorang muslim pasti meyakini agama saya Islam benar dan tak memaksakan kebenaran itu kepada selain keyakinan saya, karena diluar apa yang saya yakini juga versi kebenaran dan hal itu perlu kita hargai dan apresiasi. Singkanya jangan jadikan takaranmu untuk menakar orang lain.
Ketika kita membuka kembali lembaran perjalan negeri ini wacana pluralisme sendiri sempat menjadi perbincangan hangat, sampai-sampai memaksa MUI (Majelis Ulama Indonesia) mengeluarkan fatwa haram terhadap “pluralisme”, dengan alasan paham ini berbahaya apabila sampai kepada masyarakat awam.Bagi penulis sebuah fatwa kontroversi kemudian dibalut alasan lucu. Jika memang MUI pengayom umat tentunya tak cukup hanya mengeluarkan fatwa demikian. Bagaimana ingin melindungi umat jika hanya berkutat pada ruangan pribadi yang ber-AC, mimbar, plus siaran TV untuk mengucapkan selamat berbuka puasa.
Untunglah fatwa itu suatu yang sifatnya tidak—mengikat dan bisa kita tinggalkan. Olehnya itu penulis ingin berpesan “berkeyakinanlah dimana engkau mereasa nyaman karena bukankah jalan menuju Tuhan itu sebanyak anak cucu Adam”.

Penulis - Reski Emil Oja
Editor   - Elf


Read More

Jumat, 26 Mei 2017

Puasa Universal di Bulan Ramadhan

Puasa dalam bahasa Al-qur’an di sebut juga sebagai As shoum atau As shiam dan al imsak yang berarti menahan. Maksudnya orang yang berpuasa harus menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa. Waktu untuk menahan menurut Syariat islam di mulai dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari. Sedangkan puasa menurut etimologi dalam bahasa Sansekerta di sebut sebagai upavasa. Yang dalam tradisi hindu upavasa merupakan syarat ritual dengan menyangkal nafsu-nafsu badani, tidak makan dan minum dalam jangka waktu yang di tentukan oleh aturan agama. Sedangkan dalam bahasa Yunani Puasa adalah kata nesteuo yang secara harfiah berarti merendahkan diri dengan tidak makan dan minum pada waktu tertentu.

Dengan etimologi yang se singkat di atas, setidaknya saya dapat menarik kesimpulan sementara bahwa puasa bukan hanya milik umat tertentu, tetapi puasa sebagai di artikan menahan diri dari berbagai syarat untuk kepentingan individual atau kelompok, di kenal oleh setiap peradaban di masa lalu.
Al-Qur’an sedniri sebagai kitab suci agama Islam(karena saya orang islam) dalam surah Al-Baqarah ayat 183, Allah SWT berfirman yang arti bahasa Indonesia adalah “ Hai orang-orang yang beriman, di wajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (Untuk menjelaskan ayat ini, orang perlu metode tafsir, sedangkan saya bukanlah orang mampu menafsirkan ayat ini), tetapi dengan pikiran yang sederhana, kita dapat menyimpulkan bahwa puasa adalah ibadah yang telah di tempuh oleh umat-umat terdahulu yang masih eksis atau mungkin telah menjadi purba.
Puasa adalah kata yang memerlukan waktu, tubuh dan sebuah percakapan. Waktu puasa dalam syariat islam di mulai dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari yang berlaku secara individual dan pada waktu yang terorganisir, Bulan Ramadhan adalah bulan tertentu untuk melaksanakan puasa dengan menjadikan perhitungan hisab atau melihat hilal yang kemudian di laksanakan oleh semua umat Islam. Ini berarti Puasa dalam ajaran Islam berlaku untuk subjek dan sekaligus untuk kehidupan sosial-organis.
Selain karena waktu. Puasa juga di tempuh untuk tubuh. Sebagai makhluk yang bereksistensi di dunia. Manusia sangat perlu untuk memiliki tubuh agar mampu melangsungkan kehidupannya di dunia, untuk itu kesehatan tubuh sangat di perlukan manusia. Puasa itu dapat menyehatkan tubuh karen puasa dapat mereproduksi kembali daya tubuh kita. Selain itu puasa sebagai sebuah ibadah memberikan kita energi spiritual yang baik untuk ketahanan psikologi untuk tidak mudah marah dan iri atau memikirkan sesuatu yang memberatkan kerja tubuh.
Puasa sebagai sebuah percakapan adalah ibadah yang menyempatkan diri kita untuk bercakap dengan tubuh kita sendiri. Karena kemungkinan kesibukan aksidental membuat kita lupa memiliki tubuh dan pada saat tubuh merasakan sakit, barulah kita bermanjaan dengan tubuh kita bahkan sebagian orang karena sakit tubuhnya orang malah mengumpat dan mencela tubuhnya sendiri.
Tubuh adalah materi universal yang di anugrahkan kepada manusia. Tubuh juga adalah sejarah bagi manusia. Dengan berpuasa kita dapat merasakan tubuh kita sendiri, tubuh orang lain bahkan tubuh orang -orang terdahulu. Dengan berpuasa kita mampu belajar dengan tubuh kita sendiri, karena dengan menahan lapar dan dahaga. Kita mampu bercakap dengan organ pencernaan kita, dan dengan menahan nafsu, kita juga mampu untuk bercakap dengan jiwa kita.
Karena sebentar lagi kita memasuki waktu di bulan Ramadhan, sebaiknya kita banyak menghabiskan waktu untuk berduaan dengan diri sendiri. Pandai untuk bercakap dengan tubuh sendiri dan merasakan tubuh orang lain. dengan berpuasa kita mampu belajar untuk memaknai waktu yang telah berlalu dan waktu yang akan membawa kita bereproduksi. Selain itu puasa dapat mengajarkan tubuh kita untuk bergerak di jalan yang lurus dan seminimal mungkin mengurangi gesekan gerak dengan tubuh yang lain.
Untuk itu marilah kita menyambut bulan Ramadhan dengan berpuasa. Dan marilah kita berpuasa dengan menyambut tubuh kita dengan rasa gembira. Dengan tubuh kita, kita mampu menyelami sejarah tubuh orang-orang terdahulu. Sehingga barang siapa yang beruntung puasa itu akan membawa kita kepada Tuhan sebagai pancaran bentuk tubuh kita. inilah yang saya sebut sebagai  puasa universal untuk tubuh universal.


Read More

Filsafat Pendidikan: Kaum Shopis dan Cermin Dosen

Selamat datang kita pembentuk peradaban. Kalau anda dan saya menyangka dosen (baca: pengajar) itu luhur dan tulus sama sekali, baiknya tanggalkan dulu presepsi itu. Kenapa? Semoga tulisan urak-urakan ini mampu diajak berdiskusi.

Selamat Membaca!

fakultas ushuluddin filsafat dan politik


"Waspadalah, Dosenmu (jelmaan) Kaum Sophis"
Kira-kira begitulah yang gugatan yang ingin penulis lontarkan. Bukan bermaksud sombong dan sok lebih hebat dari dosen atau pengajar. Hanya saja saya tidak bisa terus mengingkari isi hati dan diam.
"Bukankah mendiamkan kejahatan (baca: Penyimpangan; setidaknya menurut saya) sama dengan mengaminkan perbuatan tersebut."

Kaum Sophis adalah kelompok cendikiawan yang hidup sekitar abad ke-4 SM. Keberadaan mereka nyaris tidak bisa di pisahkan dari Socrates. Saking tidak bisa pisahkan, seperti “Yin” tak kan ada tanpa tanpa “Yang”. Begitu erat kaitan keduanya oleh karena wacana sesudahnya merupakan reaksi terhada wacana sebelumnya. Saya tidak tau persis bagaimana kaum sophis kalau Socrates saat itu tidak mencela mereka. Yah, terlepas dari keduanya tentu dapat dikaji secara terpisah.
Kaum sophis memiliki kemampuan retoris atau pidato yang luar biasa. Orang-orang sophis berkeliling kota dan mengajarkan pengetahuan. Berkhotbah tentang pengetahuan dan politik di alun-alun kota, kelompok-kelompok anak muda, penjual-penjual sayur dan kelompok lainya di Athena. Ini merupakan hal positif dan sangat mengagumkan. Yang saya bayangkan, saat itu warga Athena hanya mengangguk-angguk menikmati guyuran retorika, entah mereka mengerti atau tidak.
Kaum Sophis sangat terkenal di Athena. Mungkin kalau zaman sekarang bisa di sepadankan dengan terkenalnya selebritis. kaum sophis kemudian memanfaatkan kemampuan retorika atau pidato mereka untuk mencari nafkah. Para bangsawan di ajarkan seni berpidato dan debat kemudian mendapat imbalan berupa uang. Tidak ada yang salah dengan itu, namun tuntutan zaman yang berbeda membuat menarik upah dari hasil mengajar menjadi masalah besar.
Pada masa itu mengajar bukanlah sebuah profesi. Mengajar adalah tentang mewariskan pengetahuan tanpa harus meminta imbalan. Mode zaman yang seperti ini benar-benar menjunjung tinggi kesucian pengetahuan. Sehingga meminta imbalan mengajar merupakan hal yang sangat memalukan. Olehnya tepat yang dilakukan socrates. Socrates mencela perbuatan kaum sophis tersebut, karena dianggap menyimpang dengan tujuan mengajar.

Bagaimana dengan sekarang?
Di milenium ini, persoalan kapital atau finansial dan kewajiban mewariskan pengetahuan tidak dapat dipisahkan. Menjadi harga mati bahwa segala aspek dalam diri yang berupa jasa memiliki nilai jual. Kalau saya mampu memperbaiki pintu yang rusak, itu bisa memilki nilai jual. Kalau saya bisa mengetik di computer atau laptop, itu juga bisa memiliki nilai jual. Bahkan hal yang paling fundamental sekalipun seperti meminta teman mengatarkan pesanan teman yang lain juga memiliki nilai jual. Minimal uang bensin untuk si teman.
Sehingga yang terjadi adalah interaksi sosial kita terikat oleh samsara simbiosis mutualisme. Saling menguntungkan barulah interaksi terjadi. Sehingga sangat sulit kiranya menemukan utang budi di zaman ini. Semua utang budi terputus pada bentuk imbalan-imbalan. Kalau anda membantu saya, saya memberikan anda upah dan lunaslah bentuk hutang budi. kita terikat oleh hubungan saling menguntungkan semata.
Ukuran zaman “edan” seperti sekarang ini lebih banyak “apa yang saya beri dapat memberikan nilai lebih kepada saya”. Standar kehidupan ini secara alamiah masuk ke setiap nadi kehidupan. Bahkan sampai menguasai jantung peradaban. Standar kehidupan bukan lagi pada standar hutang budi, tapi soal hutang money. Semoga kita tidak salah menafsir makna dari ajaran Tao Te Ching, “semakin banyak kau memberi, semakin banyak pula yang diterima”.
Serupa juga yang terjadi dalam dunia pendidikan. Proses transfer ilmu dari pengajar kepada yang diajar menua pergeseran. Bahkan sudah berlangsung 1000 tahun lebih. Mengajar bukan lagi semata mata soal keluhuran maksud pengajaran, namun tendensi finansial ikut mengalir dalam setiap sendinya. Proses mengajar hanya akan berlangsung kalau ada upah. Mengajar sudah dijadikan profesi. Inilah yang terjadi sekarang. Instansi dan biro pendidikan menjadi agen penyalur manusia yang mengajar demi bertahan hidup.
Sumber: 2.bp.blogspot.com

“Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa”. Semboyan ini agaknya sudah hangus termakan zaman. Bahkan sebelum-entah siapa itu-yang merumuskan kalimat seluhur ini hadir dibangku sekolah dasar. Semboyan ini saya kira hanya relevan untuk era Socrates saja, di mana guru hanya mengajar tanpa menuntut imbalan. “…tanpa tanda jasa”, ini agaknya melucu.
Tiap semester saya membayar sekolah. Tiap sekolah menuntut anak didiknya membayar ini itu, dari jenjang sekolah dasar sampai bangku kuliah, tidak ada satupun yang tidak berbayar. Siapa yang menyangkal ini, pasti dia lama hidup dihutan dan tidak mengerti cara bertahan hidup di lingkungan akademik.
“..tanpa tanda jasa”?, maaf pak, buk, jasa ibu dan bapak sudah saya bayar. Itu tanda jasa yang kami bayar kepada kalian. Kalian tidak benar-benar tanpa tanda jasa. Dan mungkin bapak ibuk lupa apa arti “tanpa tanda jasa”. Semua jasa mengajar bapak dan ibu sudah kami bayar. Itu saja.
-“Belum lagi di NKRI kita ini, zaman edan ini meminta kita membayar dengan tinggi harga kehidupan. Tapi yah, itu sih wajar juga. Kan Negara kita belum bisa dewasa dari orok konsumerisme dan jeratan kapitalis.”-ahh sudahlahh…
Kira-kira begini prolog yang sedang berlangsung. Ini bisa dilihat dengan bergesernya esensi pengajaran bukan lagi soal mewariskan pengetahuan. Tapi sebagai lahan utama pemenuhan kebutuhan-hidup bagi sang “guru”. Nilai sakralitas keilmuan nomer sekian, yang penting saya masuk “absen-mengajar-pulang-upah”. Mirip kaum Sophis di zaman Socrates. Keluhuran maksud-maksud pengetahuan dinodai oleh keunggulan materialis. Memang tidak bisa dipungkiri akan kebutuhan tersebut. Tapi jangan sampai lupa esensi dari pe-warisan intelektual.
Ini di lingkungan tempat saya mengais kerak pengetauan, semoga tidak di tempat kalian. Kita memang masuk kelas, tapi tidak lebih dari sekedar formalitas untuk melengkapi absen. Memuaskan sistem memenuhi target kehadiran. Memikul aturan-aturan tidak rasional. Mempersoalkan potongan baju. Alas kaki. Gaya rambut. Mungkin kalau di buat daftar keluhan terhadap sistem, saya harus minjam jari dewa wisnu biar cukup. Bukanya sibuk menyoal keilmuan, malah salah fokus.
Okelah ya kalau sistem juga mengimbangi kualitas didik. Kalau pendidik ternyata seperti- meminjam istilah Paulo Freire- mendidik ala Bank, ya itu kan tidak ngeh, ngga pas. Tapi yang terjadi adalah sebaliknya. Pendidik yang berkualitas bisa dihitung jari. Selebihnya tidak jauh beda dengan pendidik diangkatan ABG.
Saking sibuknya mengurusi hal seperti itu mereka sampai lupa bahwa esensi dari pendidikan adalah pengetahuan. Sistem seharusnya mencerdaskan, bukan menganaktirikan pengetahuan. Memperhatikan hal hal yang esensial daripada yang aksidental. Bukan. Bukan yang lain. Sekali lagi, BUKAN YANG LAIN. Saya berani bertaruh atas nama pengetahuan dan pencipta pengetahuan, bahwa mereka yang selalu rapi masuk kelas dan berlari karena pecut sistem tidak jauh lebih unggul dari mereka yang berlari bebas.
Ini sangat memprihatinkan. Sistem pembelajaran seharusnya kian menua kian berkualitas. Meningkatkan mutu kurikulum. Terus melakukan riset dan menelaah apa yang kurang dari sistem. Bukan sebaliknya, sehingga dapat melahirkan generasi seperti jargon ”andalangnya”, kampus peradabang. Lantas apa yang terjadi. Tenaga pengajar hanya sebatas mengajar, tanpa kualitas yang tuntut dapat memperindah peradaban. Sebatas setelan hitam-putih memperketat absensi. Sebatas emosi kalau-kalau tidak dituruti.
Maka tidak heran ada doktrin leluhur dunia kampus kayak gini , ” bangku kuliah hanya menyediakan 20% pengetahuan, selebihnya cari sendiri diluar”. Ini bukan sebatas bualan belaka. Mungkin para dosen menyadari juga hal ini, tapi enggan memperbaiki. Atau oleh karena mereka tahu statistic ilmu dunia kampus, makanya mereka mengaminkan saja agar kerja mereka lebih ringan?.
Yah, semoga pada pengajar ala kaum shopis tersebut lekas sadar..


#ThingAgain.
Read More

Kamis, 25 Mei 2017

Filsafat Cinta : Hujan membawa kenangan

Tulisan lama baru di post. Selamat menikmati

“Hujan membawa kenangan”, itu kata mereka.

Disudut warkop yang tidak beratap.

Aku dan senja. Warna senja mulai memudar di kaki cakrawala. Pelan pelan bintang raksasa itu mulai ditelan gelap. Memangsa gelap disisi lain. Garis garis merah tembaga itupun semakin menegas. Sisa sisa keperkasaanya menusuk-nusuk dedaunan, menelan hijau dengan emas. Kau tau itu, aku selalu menyukai senja. Tak ada yang lebih indah dari pada senja.

Terbanglah hayal menerka-nerka kisah yang lama. Dia lepas bebas menemuimu yang saat itu masih milikku. Batas waktu tidaklah aku perdulikan. Ku biarkan saja semua melanggar hukum alam. Kau tidak mungkin mengulang waktu, itu yang mereka katakana. Salah, aku bisa memutar waktu, bersama fikiranku.

Di kedalaman kuburan masa lalu. Bongkahan kisah dan kepingan kepingan usang yang mulai memudar, aku kais kembali. Siapa tau saja aku menemukan lembaran lusuh tentang kita. Lembaran yang dulu pernah aku bingkai dengan segala mimpi dan rencana tentang seatap bersama. Meski saat itu belum sempat ku tunjukan hingga kau berlalu.

“Ini tentang kisah bunga yang layu sebelum mekar”. Kata-kata itu terpapar rapi, aku mengukirnya lama agar terlihat indah. Aku ingat benar, memori itu aku tulis selepas senja memutuskan harapan bersama malam. Aku mengenang kembali…

Cahaya di lorong kampus hijau sore itu mulai meredup. Sekonyong konyong lampu jalanan beralih menerangi jalan. aku tenang saja, melewati gedung  sejuta mitos itu. Awalnya gedung tua itu adalah gedung rektorat, lalu beralih fungsi menjadi fakultas. Cukup tua, terlihat dari lapisan cat cream yang mulai terkulupas sana-sini.

Ini bukan pertama kalinya aku melewatinya sepetang ini. Kegiatan organisasi kampus memaksa aku harus tinggal hingga larut petang. Tidak masalah, aku malah suka. Tapi kali ini ada sesuatu yang sedikit berbeda. Aku jalan tidak sendiri, ada Shofia yang menemani.

Gadis itu aku kenal beberapa hari yang lalu. Orangnya kecil menggemaskan, manis dan berjilbab besar. Aku selalu menyukai gadis berjilbab besar. Belum lagi belakangan aku tau dia adalah sosok gadis yang tomboy. Pas benar, wanita impianku. Gadis religius yang tomboy, eh.

Canda sepanjang jalan pulang itu, aku tak bisa melupakanya. Seperti menelan senja, matamu selalu sulilt aku lepaskan dari pandanganku. Tawamu yang tanpa dusta. cara jalanmu yang lebih cepat dari gadis kebanyakan. Semua masih lekat dikepalaku, seperti baru kemarin.

Aku dan mendung

Pagi itu, fajar menyisakan luka. Tiupan angin membawa benih luka entah dari mana. Kau murung. Melukai lembaran bukumu dengan sentuhan berlebihan. Aku tersadar. Menyeruaklah alasan-alasan kecewa dari ruang ruang hampa. Hingga aku menyadari tak ada luka yang hadir begitu saja. Aku tau itu salahku. Mungkin langit paham benar hatimu. Mendung.

Aku diseberang sana menatapmu tanpa pernah kau tau.  Berjarak empat meja dari tempatku. Tidak jauh keliahatanya. Tapi ketahuailah, jika itu tentang jarak denganmu rasanya selelu sama saja. Jauh.
Mungkin kau menyadarinya namun kau acuhkan aku. Beberapa bulan mengenalmu membuat aku semakin mengenalmu. Sifatmu, masa lalumu, cara berjalanmu, sorot matamu, warna favoritmu yang mendadak juga menjadi warna favoritku. Kau menjelma sempurna dimataku. Bahkan susunan gigimu begitu aku hafal.

Puluhan puisi tentangmu mengalir dari ujung pena. Entah datang dari mana, rangkain metafora menderas tak terbendung. Kau jelma yang tak habis dikata. Melukis kenangan indah dirimu. Tak pernah habis imaji tentang dirimu. Jangankan menghitung, mengira saja tak kuasa. Mengalir begitu saja.

Tak ada yang lebih indah darimu. Yang ku inginkan hanya menatap dirimu. Lekat dan dalam dan semakin dalam. Aku tak pernah menemukan rasa bosan kalau itu tentang dirimu. Kau membunuh definisi negative apapun itu. kau miliku, aku milikmu. Dan akan selalu, kau impianku.

Aku tau kau sangat menyukai mendung. Kau banyak bercerita tentangnya. Bahkan kau mencipta lagu untuknya. Kau melukis tentangnya. Berpuisi tentangnya. Tapi, pagi ini aku tak pernah melihatmu sebenci ini pada mendung. Maafkan aku.

Aku dan hujan

Kopi itu semakin dingin, sudah sejam lebih bertengger diatas piring kecil berwarna putih dengan hiasan bunga kesukaanmu, tulip kuning belanda. Butiran hujan juga sudah meringsek sedari tadi ke dalam cangkir. Aku baru menyeruput sekali. Terlalu sayang menghalau buah mendung yang kau cintai.

Gerimis itu berubah menjadi butiran yang lebih besar. Hujan. Langit semakin hitam dan pekat. Membasahi keratan masa lalu yang masih membisu. Sunyi. Suara suara kejauhan semakin memudar. Berisik lalu-lalang semakin samar tergantikan rintik hujan. Semakin tenang dan tenang..

Desir darah mengalir semakin pelan. Menuntun butir-butir penyesalan jatuh hingga kedalaman. Dingin pun membius ujung-ujung saraf di permukaan kulit. Ini semakin dingin. Seperti suara detak jantungku terdengar meluruh. Bergerak dalam irama dan dentum yang teratur, bertasbih dengan huruf huruf namamu. Ini semakin muskil.

Bajuku semakin basah dan tidak menyisakan  sisi kering lagi. Cangkir kopiku semakin terisi, perlahan namun pasti. Sejam lagi, mungkin seisi cangkir akan meluap. Menyisakan ampas hitam yang tak diinginkan. Semua hanya masalah waktu. Hingga akhirnya apapun itu datang menjemput.

Mataku sembab dan memerah. Ayahku pernah berkata, air mata laki laki adalah tanda kelemahan. Persetan dengan kelemahan, aku tak peduli. Lelah menumpah butir butir kepedihan. Hampalah ruang yang pernah kau penuhi. Kini, semua tinggal penyesalan.


Hujan. Hanya bersama hujan aku fasih mengenangmu. “Hujan membawa kenangan”, itu kata mereka. Tegaslah yang terselubung pada hati yang rapuh. Cinta akan tetap cinta meski ombak dan badai bergantian menerpa. Cinta akan tetap cinta kita tak lagi sama. Yang terpenting pula, hiduplah hari ini.
Read More

Senin, 22 Mei 2017

Filsafat Cinta : Oase Perjumpaan

Berikut adalah syair perjumpaan yang berhasil saya hayalkan dengan baik. Semoga mampu merangsang imajinasi ke dalam ruang ekstase.
selamat membaca pengunjung kami yang budiman

Oase Perjumpaan
Ingin ku simpan rindu berlebih. Hatinya mulai terpasung rasa yang baru itu. Mendekamlah ia dalam diam. Menikmati gelora cinta yang sulit di ungkap dengan suara. Bibirnya bergetar-getar lembut tak bernada. Seperti terkunci, mulutnya hanya pasrah menunggu waktu. Bersama rasa yang semakin membisu.

Di simpulkan tangan ditengah dada. Matanya menengadah bermunajat kepada Tuhan. Dengan suara lirih sedikit berbisik,” inikah nikmat tikaman rindu yang dijanjikan cinta”.

Terdamparlah ia dipantai lara tak bertepi. Bermunajat penuh harap pada kearibaan yang dapat mendengar. Pada suara-suara kesunyian diujung telinga. Oh burung malam sampaikan salam rinduku. Oh bulan, terangilah dia dalam kesepian. Jelmakan wujudnya di hadapanku. Biar luruh landai gempita rindu.

Ingin ku simpan rindu berlebih. kalau bukan karena kau salah mengetuk pintu, mungkin kau hanya akan menjadi angin lalu. Terbang menuju kejauhan, lalu lenyap dalam ketiadaan. Namun, Tuhan memaksudkan lain. Pertemuan dua insan.

Dia kembali mengenang perjumpaan. Bersetelan merah kuning dengan topi khas bertuliskan pizza hut. Diketuknya pintu rumah cinta. Ketukan nyaring tangan rindu yang sedikit berbulu membangunkan seisi semesta kesunyian. Kau datang tepat waktu, pengantar pizza. Tepat sebelum tubuhku dehidrasi.

Senyumnya tersimpul ramah di atas bibirnya yang sedikit mengering. Seperti sudah terlatih dan mahir, tak sedikitpun ketidaknyaman mengada. Bicara dan gerak tubuhnya mengisyaratkan penghormatan dan mengutamakan kenyamanan. Ah sosok dia, apa ini pura-pura saja atau ini memanglah karakter dirinya?.

Hari hari berlalu penuh tanya.

Ini awal yang tidak pernah akan aku ceritakan padamu. Terlalu sayang bagi telinga dan mata yang buta akan cinta. Biarlah ia gentayangan dalam pusara. Melebur hingga kau lupa.

Ingin ku simpan rindu berlebih. Pesonanya seperti melekat di setiap sudut syaraf. Tiadalah menjauh bayang dirinya. Berkuasa atas segala imajinasi dan hayal akan arti kasih. Membunuh keangkuhan pada hati yang hampir membatu. Meluruh hingga menjadi debu. “..dan kau angin. Bawalah terbang hingga jauh. Bawalah menuju ruang yang tak pernah aku tau. Ke dalam waktu yang tidak akan pernah aku tuju”.

Kau tiba di waktu yang tepat. Tepat sebelum hatiku benar-benar melayu. Sebelum cahaya cintaku lenyap ditelan gelap sisi kedukaan. Perlahan seperti membaik. Berubahlah di sisi sebelah dalam sungguh tandus. Angin mungkin bertiup disana, tapi bukanya membawa awan dan hujan. Tapi bulir debu yang yang memekakkan mata.

Ingin ku simpan rindu berlebih. telah lama ia berputus asa akan nikmat cinta. Dia sandarkan pengharapan akan rindu dan kasih pada pualam-pualam licin. Agar tak ada sakit saat menapak. Agar tak ada bekas bagi sekelibat jejak. Ia tinggalkan semua mimpi bersama pesakitan yang tidak pernah ingin ia jumpai. Hingga pada penghujung senja di batas luka. Cinta perlahan menyingsing tanpa ragu.

Sekarang, teranglah fatamorgana. Takdir sua telah terlampir dalam catatan sakral malaikat di lauhul mahfuz. Ia telah menemukan bahu untuk bersandar. Ialah punuk yang terbang menuju bulan. Tiadalah lagi batas baginya menuju ruang kerinduan. Tabir cinta teranglah sudah. Dia tak melihat lagi kepura-puraan dimatanya. Senyum dan sorot matanya, gerak tubuh dan suaranya. Yang terlihat hanyalah ketulusan mendalam dari insan yang dijanjikan.

Ingin ku simpan rindu berlebih. Agar tak patah oleh seutas temu.

...
silahkan nikmati tulisan kami yang lainya,,, terimakasih!


Read More

Tubuhku yang berulang tahun (Pemikiran tentang Ulang Tahun)



Telah 17 hari setelah aku berulang tahun. Umurku sekarang terhitung menjadi 21 tahun. Usia yang tidak lagi bisa di sebut anak-anak tetapi juga tidak bisa di sebut sebagai dewasa. Aku senang menyebut fase 21 tahun sebagai fase dualitas. Aku masih memiliki sifat anak-anak tetapi berusaha untuk menjadi orang dewasa. dengan memiliki dua wajah itu pula, aku ingin mengucapkan bahwa ke “akuanku” masih berada di pertengahan jembatan antara kedirian dan struktur masyarakat.
Aku yang berumur 21 juga adalah “aku yang tercabik-cabik”. Begitu banyak kesadaran yang timbul dari dasar laut ketidak sadaran. Pengalaman-pengalaman terhadap putting ibu kembali timbul secara lebih nampak dan kompleks. Aku yang tercemaskan akibat keterpisahan dari esensi putting Ibu kembali terulang pada aku yang 21 tahun. Kali ini putting ibu “berwajah dua”. Wajah yang sebelah adalah aku yang didekap dada ibu. Dan wajah sebagian adalah putting ibu yang berbentuk putting masyarakat.
Aku yang berumur 21 tahun juga adalah aku yang menghisap putting masyarakat. Aku bisa menolaknya, tetapi aku akan mengalami kecemasan sebagai yang dianggap “kurang gizi” atau sebaliknya, memilih menghisap putting masyarakat dan di ninabobokkan lalu mati. Aku tahu, hanya putting ibu yang melilitku dengan plasenta sebagai esensi tubuhku. Sedangkan putting masyarakat adalah putting ilusi, sebuah putting yang menyamarkan bentuk payudara ibuku. Tetapi yang membuatku tercabik. Putting ibuku telah memasyarakat. Putting yang meruntuhkan tubuhku.
Di Umur 21 tahun, aku juga melihat tubuhku. Memandang kelaminku sebagai kuasa kejantananku. Kadang aku melihatnya sebagai yang lain. sebagai sesuatu yang tak pernah kuminta. Tuhan menyusun kelamin itu pada tubuhku. Padahal aku ingin menukar kelaminku dengan pena. Agar aku hanya berhasrat untuk mematahkan penaku.
Aku juga melihat jakun yang tumbuh di tengah leherku. Suaraku semakin berat dan bulu-bulu telah menguasai tubuhku. Aku tak pernah meminta untuk bertubuh seperti ini. Aku lebih ingin tidak bertubuh. Tubuh adalah kerinduan. Dan tubuhku tidak pernah tahu arti terpisah dan juga tidak becus mengalami kesepian. Sedang aku yang tidak bertubuh adalah aku yang sepi dan selalu terpisah.
Mengalami berbagai kompleksitas berwajah dua di umur 21 tahun sungguh seperti kencing dengan satu kaki. Aku di gerus oleh ilusi kehidupan. Kehidupan yang miskin esensial. Aku di tombak masyarakat yang tidak mengakui keakuanku . Meraka butuh aku yang menjadi lain. Aku yang berkuasa bukan aku yang esensi.
Inilah aku saat ini. aku yang akan menjadi berisik dan tiba- tiba menjadi diam. Aku yang tertawa dan tiba-tiba menjadi sedih. Kuingatkan untuk tidak berkawan denganku karena aku tiba- tiba menjadi musuh. Sungguh aku hanya ingin mencari kembali putting payudara yang pernah kuhisap dulu. Putting payudara yang bisu. Putting payudara universal. Putting yang melampaui putting ibuku. Putting payudara Tuhan.
Demikian catatan ini menandakan aku yang memilih untuk tidak memasyarakat.

***

Setelah anda membaca aku yang 21 tahun. Aku telah menjadi dia. Dan apa yang anda baca adalah apa yang anda pikirkan. Secara tidak sadar aku yang 21 tahun dalam tulisan ini telah mati dan bereinkarnasi menjadi dia. Tetapi dia juga telah mati dan kalianlah yang membunuhnya.
Read More