Kamis, 18 Juni 2015

berpuasa dengan cara filosofis.



Beramadhan dengan cara filosofis

Allah Swt berfirman “"bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda. Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu..."
—(Al-Baqarah 2: 185)


Alhamdulillah. Segala puji bagi Tuhan yang melonggarkan waktu. Dengan kelonggarannya Allah Swt masih memberikan kesempatan untuk bertemu waktu Ramadhan sekali lagi di tahun 2015. Waktu yang harusnya di jadikan sebagai waktu untuk mensucikan diri. Juga waktu yang dijadikan sebagai tempat untuk mempantaskan diri di hadapan Tuhan. Dan waktu Ramadhan secara filosofis dijadikan sebagai ajang untuk mengenal diri.
Ramadan berasal dari akar kata ر م ﺿ , yang berarti panas yang menyengat. Bangsa Babylonia yang budayanya pernah sangat dominan di utara Jazirah Arab menggunakan luni-solar calendar (penghitungan tahun berdasarkan bulan dan matahari sekaligus). Bulan kesembilan selalu jatuh pada musim panas yang sangat menyengat. Sejak pagi hingga petang batu-batu gunung dan pasir gurun terpanggang oleh sengatan matahari musim panas yang waktu siangnya lebih panjang daripada waktu malamnya. Di malam hari panas di bebatuan dan pasir sedikir reda, tapi sebelum dingin betul sudah berjumpa dengan pagi hari. Demikian terjadi berulang-ulang, sehingga setelah beberapa pekan terjadi akumulasi panas yang menghanguskan. Hari-hari itu disebut bulan Ramadan, bulan dengan panas yang menghanguskan.
Setelah umat Islam mengembangkan kalender berbasis bulan, yang rata-rata 11 hari lebih pendek dari kalender berbasis matahari, bulan Ramadan tak lagi selalu bertepatan dengan musim panas. Orang lebih memahami 'panas'nya Ramadan secara metaphoric (kiasan). Karena di hari-hari Ramadan orang berpuasa, tenggorokan terasa panas karena kehausan. Atau, diharapkan dengan ibadah-ibadah Ramadan maka dosa-dosa terdahulu menjadi hangus terbakar dan seusai Ramadan orang yang berpuasa tak lagi berdosa. Wallahu `alam.
Dari akar kata tersebut kata Ramadan digunakan untuk mengindikasikan adanya sensasi panas saat seseorang kehausan. Pendapat lain mengatakan bahwa kata Ramadan digunakan karena pada bulan itu dosa-dosa dihapuskan oleh perbuatan baik sebagaimana matahari membakar tanah. Namun kata ramadan tidak dapat disamakan artinya dengan ramadan. Ramadan dalam bahasa arab artinya orang yang sakit mata mau buta. Lebih lanjut lagi hal itu dikiaskan dengan dimanfaatkannya momen Ramadan oleh para penganut Islam yang serius untuk mencairkan, menata ulang dan memperbaharui kekuatan fisik, spiritual dan tingkah lakunya, sebagaimana panas merepresentasikan sesuatu yang dapat mencairkan materi.
Ramadhan juga disebut sebagai bulan shaum atau bulan puasa. Bulan yang artinya selama kurun waktu sebulan itu di isi dengan kegiatan berpuasa. Dari terbitnya matahari hingga tenggelamnya matahari. Namun bulan puasa tidak akan memiliki arti jika tak beramadhan. Karena jika difilosofiskan. Inti dari puasa adalah proses penyucian. Maka dengan berpuasa saja tanpa Ramadhan adalah nihil. Namun beramadhan dengan berpuasa adalah kesempurnaan.
Ada banyak sekali ibadah yang ditawarkan Tuhan di bulan Ramadhan. Mulai dari puaa itu sendiri. Sholat wajib yang pahalanya dijanjikan berlipat ganda. Juga sholat sunnah yang di seolah olahkan sama nilainya dengan sholat wajib. Bacaan Al-Qur’an yang adalah satu huruf nilainya 10 pahala. Sholat tarawih yang dilaksanakan setelah sholat isya. juga sahur dan berbuka puasa yang mengajarkan kebersamaan. Lalu datanglah hari ke tujuh belas. Hari yang disebut sebgai hari lailatul Qadar. Malam yang adalah malam seribu bulan. Malam yang begitu penting. Malam yang menjadi puncak dari bulan ramadhan.
Bulan ramadhan jika kita tilik esensinya. Seorang yang sedang menjalankan Ramadhan sama dengan seorang yang sedang mencari harta karun yang terletak diatas sebuah gunung. Awal ramadhan manusia berada pada lereng gunung mempersiapkan dirinya mendaki gunung untuk mendapatkan harta karun di puncak. Namun manusia harus mesti menahan(berpuasa) dari egonya untuk ingin cepat mendapatkan hasil. Selain dari pada itu dia harus mesti selalu ingat dengan Tuhannya. Jika itu dilakukannya maka dia akan berada di puncak pada hari ke 17. Dan harta karun akan ia peroleh yakni malam lailatul Qadar. Sebuah harta qarun dari sang maha kebenaran. Lalu setelah mendapatkan hasil itu manusia harus mempertahankan apa yang sudah di raihnya hingga terus berada kembali ke lereng gunung. Jika ia berhasil maka dia akan disambut dengan hari raya idul fitri.
Kurang lebih seperti itulah gambaran akan manusia yang sedang berpuasa. Ramadhan mesti dijadikan sebagai peluang untuk memperkenalkan diri di hadapan Tuhan. Yang adalah tempat kita untuk kembali. Yang adalah dialah yang menciptakan kita dari ketiadaan. maka marilah kita beramadhan dengan cerdas.




Facebook Komentar
0 Blogger Komentar


EmoticonEmoticon